Lintas Warta Kamis 05 Juli 2007
Politik Ambigu Brown
Berkat upaya keras gerakan Hamas, akhirnya wartawan BBC, Alan Jhonston berhasil dibebaskan dari jerat tawanan selama 114 hari. Johnston pada tanggal 12 Maret lalu sempat diculik oleh kelompok Tentara Islam Palestina. Segera setelah pembebasan dirinya, Johnston lewat konfrensi pers yang digelar besama dengan PM Kabinet Persatuan Nasional Palestina, Ismail Haniyeh, menyatakan, bahwa kebebasan dirinya dari tangan penculik merupakan hasil jerih payah gerakan Hamas. Menurutnya, Gerakan Hamas merupakan organisasi kerakyatan Palestina yang terbaik dan terkuat, yang bisa menjamin keamanan dan konsitusi di Jalur Gaza. Sementara itu, Hamas sendiri menilai bahwa aksi pembebasan wartawan BBC itu sebagai aksi kemanusiaan.
Sejauh ini, terdengar kabar bahwa sebagai ganti dari pembebasan Johnston, Hamas akan memberikan imbalan balik kepada kelompok Tentara Islam berupa pemberian ijin penggunaan senjata yang ditujukan hanya untuk kepentingan melawan ancaman Rezim Zionis Israel. Jubir Hamas, Abu Zahri dalam wawancaranya dengan stasiun berita Al-Alam menyatakan, sebenarnya Mahmud Al-Abbas telah mengetahui informasi detail lokasi penculikan Johnston, namun Al-Abbas enggan mengungkapkan informasi itu karena alasan yang tak jelas. Abu Zahri menambahkan, Penasehat Keamanan Badan Otoritas Palestina, Muhammad Dahlan, juga sempat melancarkan tekanan untuk mempersulit proses pembebasan Alan Johnston.
Dibebaskanya Johnston berlangusng ketika situasi keamanan di Gaza relatif lebih kondusif setelah kawasan itu berhasil dikendalikan oleh Hamas. Wartawan BBC itu ditangkap pada saat situasi Gaza masih memburuk dan berada di bawah kontrol faksi Fatah. Aksi penculiakan Johnston tersebut setidaknya menyiratkan dua pesan. Pertama, kelompok Hamas yang berhasil meraih kursi mayoritas parlemen Palestina pada pemilu 2006, masih setia dengan peraturan dan norma internasional. Kedua, Kabinet Persatuan Nasional Palestina yang saat ini tengah mengendalikan kontrol kawasan Gaza, relatif berhasil mengembalikan situasi keamanan di wilayah tersebut.
Namun ironisnya, meski Alan Johnston berhasil dibebaskan oleh Hamas, PM Inggris, Gordon Brown justru mempertontonkan politik ambigu. Satu sisi, ia menilai positif peran Hamas dalam pembebasan Johnston, namun di sisi lain ia mengelu-elukan Mahmud Al-Abbas. Sikap puji Brown kepada pemimpin otorita Palestina ini sejatinya merupakan pengakuan secara resmi atas pemerintahan hasil penunjukan sepihak Al-Abbas, dan penafian atas pemerintahan demokratis Palestina di bawah pimipinan Hamas. Padahal kalangan pers Palestina tidak menyebutkan sama sekali peran Al-Abbas dalam pembebasan Johnston, tapis malah menyebutkan bahwa ia justru berusah mengacaukan proses pembebasan wartawan Inggris itu. Tampaknya, Brown masih saja mengikuti gaya lama kebijakan standar ganda Tonny Blair dalam menghadapi persoalan Palestina.
No comments:
Post a Comment