dua organisasi perjuangan islam yang berjuang melawan israel dan anteknya (usa dan konco-konconya)untuk mendapatkan hak - hak tanah mereka yang terampas.SEMOGA ALLAH SWT MELAKNAT PARA PENGUASA DUNIA ISLAM YANG berdiam diri terhadap penderitaan rakyat palestina dan libanon (ATAU BAHKAN BERTEMAN DENGAN ZIONIS ISRAEL DAN USA). PENGUASA DUNIA ISLAM DAN ARAB MEMANG BANYAK YANG OPPORTUNIS. mengatas namakan islam tapi jauh dari perilaku islam. mari kita dukung perjuangan HIZBULLAH dan HAMAS !!!!

Friday, July 27, 2007

Hasan Nashrullah: Rudal Hizbullah Mampu Jangkau Seluruh Kota di Israel

Hasan Nashrullah: Rudal Hizbullah Mampu Jangkau Seluruh Kota di Israel


http://www.eramuslim.com

Sekjen Hizbullah Hasan Nashrullah masih memiliki kenangan kuat yang membanggakan pasukannya saat melawan Israel. Ia pun melontarkan pernyataan provokatifnya terhadap Israel dengan menyatakan pihaknya mampu menjangkau seluruh target di Israel dengan rudal-rudal miliknya.

“Pada bulan Juli dan Agustus tahun lalu, tidak ada tempat, lokasi maupun titik apapun di Palestina yang kini diduduki Israel, yang tidak dapat dijangkau oleh rudal dan misil Hizbullah. Semua target di Israel, termasuk Tel Aviv bisa dijangkau oleh rudal Hizbullah, " ujar Hasan Nashrullah. Ungkapan ini juga pernah disampaikannya saat ketegangan perang Israel berlangsung.

Hasan Nashrullah, dalam wawancarannya dengan televisi satelit Al-Jazeera menegaskan, “Suriah sebenarnya sudah siap terlibat dalam peperangan melawan Israel pada waktu lalu, tapi waktunya belum tepat. ”

Menurutnya, Israel sudah bersiap untuk menghadapi kemungkinan terlibatnya Suriah, tapi ternyata Suriah tidak melakukan aksi militernya pada waktu itu.

Hasan Nashrullah juga menyinggung rincian serangan rudal yang menimpa kapal perang Israel di hari kedua peperangan ke dua dengan Israel. Nashrullah mengatakan, serangan itu dilakukan tepat pada waktunya. Sebagaimana pernyataan Jendral Naom Feik, komandan pasukan marinir Israel. Ia mengatakan serangan yang menimpa kapal perang Israel jenis Saer 4. 5 yang ditumpangi oleh sekitar 53 polisi dan tentara Zionis, baru pertama kali dialami tentara Israel dan bukan hal yang lumrah. (na-str/aljzr)

Hamas Kritik Negara-Negara Arab yang Cendrung ke Israel

Hamas Kritik Negara-Negara Arab yang Cendrung ke Israel

http://indonesian.irib.ir/

Salah satu anggota fraksi Hamas di parlemen Palestina mengkiritik sikap negara-negara Arab dihadapan Israel. Yahya Musa, anggota fraksi Hamas di parlemen Palestina, hari ini dalam wawancaranya dengan stasiun berita Al-Alam, menyatakan, negara-negara Arab sekarang telah begitu lihai memberikan kartu kemenangan secara cuma-cuma kepada Rezim Zionis Israel. Menurut Musa, dalam situasi semacam kini, normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab merupakan keinginan Israel, dan secara praktis keinginan itu telah terwujud dengan berkunjungnya Menlu Mesir dan Yordania, Ahmad Abu Al-Gaith dan Abdullah Al-Khatib ke Tel Aviv.

Anggota parlemen Palestina itu juga menambahkan, perlawanan rakyat Palestina akan terus berlanjut hingga dicapainya kebebasan negeri mereka, dilepaskannya para tawanan Palestina, dan kembalinya para pengungsi Palestina ke tanah air mereka.

Menlu Mesir dan Yordania, Rabu yang lalu berkunjung ke Israel guna mempersiapkan rencana penerapan usulan damai negara-negara Arab. Mereka juga sempat bertemu dengan PM Rezim Zionis, Ehud Olmert dan Menlu Rezim ini, Tzipi Livni.

Hizbullah: Konspirasi AS Mencegah Pembentukan Pemerintahan Nasional

Hizbullah: Konspirasi AS Mencegah Pembentukan Pemerintahan Nasional


http://indonesian.irib.ir

Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan bahwa konspirasi AS telah menghalangi pembentukan pemerintahan persatuan nasional di negara ini.

Sayid Hasan Nasrullah, dalam wawancara eksklusif dengan jaringan TV Al-Jazirah, yang sebagiannya disiarkan Rabu kemarin, seraya menekankan bahwa di Lebanon terdapat tekad untuk mengakhiri krisis; dan dalam rangka inilah baru-baru ini telah hampir dicapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional di Lebanon. Akan tetapi dengan peran yang dimainkan oleh Jefry Weltman, Dubes AS untuk Beirut, keadaan berubah.

Sekjen Hizbullah menegaskan bahwa salah seorang dari politikus partai penguasa yang disebut sebagai kelompok 14 Maret, dalam pernyataannya mengatakan menyetujui pembentukan pemerintaan persatuan nasional, dan mayoritas pejabat Lebanon sudah mantap bahwa pembentukan pemerintahan ini merupakan jalan penyelesaian krisis interen. Akan tetapi penghalang utama tercapainya tujuan ini adalah AS.

Sekjen Hizbullah Lebanon, di bagian pertama wawancara yang disiarkan Senin malam, menjelaskan perang 33 hari agresi rezim zionis terhadap Lebanon, dan mengatakan, Hizbullah mengetahui dengan baik bahwa oleh karena kekalahannya di tahun 2000, Israel akan menyerang lagi untuk memperbaiki kredibilitasnya. Untuk itu Hizbullah menyusun kekuatan sehingga mampu memberikan pukulan keras lagi kepada rezim ini, dan menggagalkan rencana pembentukan Israel Rayanya.

Seraya menegaskan kesiapan Hizbullah untuk menghadapi serangan militer apa pun oleh rezim zionis, Sekjen Hizbullah menekankan bahwa sebagaimana pada musim panas 2006 seluruh kawasan Israel berada dalam jangkauan roket-roket Hizbullah, maka saat ini pun seluruh kawasan Palestina pendudukan ini berada dalam jangkauan roket-roket kami.

Perang Tamuz (Juli 2006)

Perang Tamuz (Juli 2006)

Zulfikar Qowi

Israel tidak memerlukan sesuatu penghalang untuk berkuasa dengan pengakuan dunia sejak tahun 1948, yang kesemunya tidak lepas dari propaganda mass media…..perang melawan negara dan kerajaan kerajaan Arab tahun 1948 hingga sampai pada perang akhir Juli (Tamuz) 2006, semuanya tidak lepas dari pengaruh mass media dan propagandanya yang disifati sebagai bukan perang internasional, politik dan militer, bukan pula “perang kontak militer” dan “perang-nyata” .

Tapi ternyata perang Juli 2006 telah kelaur dari politik zionis, sebagaimana berulang dikatakan zionis bahwa semua itu hanya untuk balasan kebebasan dua tawanan tentara zionis yang dilakukan dalam salah satu operasi kelompok muqawamah Libanon: dan sebagaimana yang disiarkan oleh alat propaganda zionis Israel sejak detik pertama dari serangan balik dari Hizbullah.

Hak ini tidak keluar dari jalur lama, hal yang sudah diprediksikan. Tapi satu kejuatan adalah satu kenyataan dimana terjadi pertahanan dan kemudian dukungan yang berkembang di medan Libanon yangmuncul dari masyarakat untuk Muqawamah, diluar dari keharapan untuk mengisolir Hizbullah dari masyarakat, sebagai telah dilihat hal tersebut sejak hari pertama serangan itu. Tragedi tragis terjadi pada pemerintah Libanon yang berlepas diri dari “aksi” Hizbullah dengan menolak bertanggung jawab atas akibatnya.

Yang menyakitkan lagi sebagai satu pukulan adalah apa yang dating dari negara Arab, terutama negara yang memiliki pengaruh disekitar jazitah Arab, dimana dengan cepat bersikap menyerang Hizbullah dan menuduh bahwa Hizbullah adalah penyebab perang ini dengan istilah “adventure”yang tidak diperhitungkan. Tidak ada satu ungkapan yang jelas sebagai reaksi dikelaur oleh mereka terhadapat peperangan ini untuk zionis.

Inilah untuk pertama kalinya berdirinya pemerintahan Arab berposisi memusuhi atau mendukung atau ridha atau atau berposisi negative. Sehingga datanglah ugkapan yang dikeluarkan oleh perdana menteri Israel Olmert : “ sebagaian dari negara Arab telah mengetahui apa yang terjadi dan mereka menyepakati untuk menambah serangan ke Libanon secara umum dan masyarakat selatan dengan unsur Muqawamah secara khusus”.

Dengan diam atau dukungan atau penentangan terhadap pembunuhan massa yang kejam itu tidak akan terjadi kalau saja posisi diam, tunduk dan menyerahnya institusi Arab. Sistim pemerintahan ini sama sekali tidak memahami makna insaniyah, keadilan, hak azazi manusia sebagaimana juga telah dipraktekkan dunia barat dengan dididikan zionis Israel . Di tulis dalam Koran As Safir di hari hari peperangan itu : “ Israel mendapat dukungan Arab dan pemerintahan Arab telah berhubungan telepon dengan Olmert yang memberikan keberanian padanya”, begitulah kejelasan posisi kebusukan pemerintahan Arab pada permusuhan Israel tersebut.

Pada 20 Juli 2006, hari ke sembilan (9) peperangan, berkata pemimpin Muqawamah, Sayyid Hasan Narullah didepan TV Al Jazirah yang kemudian dicatat dalam sejarah :”Kalau tidak atas peran Arab, tentulah peperangan akan terhenti hanya dalam bilangan jam”.

Dan diikuti olah penjelasan disana sini memperjelas makar yang dilakukan oleh sebagian pemerintahan Arab terhadap Hizbullah dan Muqawamah Islamiyah di Libanon. Olmert sendiri mengakui dalam pernyataanya ketika dalam pertemuannya untuk mempertimbangkan peperangan itu dengan menyatakan bahwa negara Arablah yang menambah semangat Israel untuk menyerang habis habisan pada Hizbullah.

Inilah keburukan dari hal yang baik, sedikit dari sekian banyak dari yang ada. Hanya saja perlu mengingat siapa yang bersama kita dan yang menentang kita.

Dan tentulah Allah akan membantu mereka yang membantu-Nya”.

Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi dan Agung.[infosyiah]

2 Komentar »

  1. Nah disitulah kita tahu keburukan pasti akan terungkap dan disitu pula kita dapat membuktikan siapa pembela Islam dan siapa pembela zionis karenanya negara-negara arab tidak dapat bersatu contohnya seperti rakyat Plastina ada pemimpinnya anti
    yahudi ada pro yahudi dan mudah-mudahan dimasa mendatang tidak ada didunia arab pemimpin pemimpin mereka yang penghianat karena bila pemimpin arab itu penghianat pasti pro yahudi itulah mereka yang munafik

    Komentar oleh abu fatimah | 0, Juli 16, 2007

  2. Pemimpin Arab pro-zionis menghianati aspirasi masyarakatnya dan rasa kemanusiaan/keadilan. Kita tungggu saja saat-saat kehancuran mereka (pemimpin arab pro-zionis).

    Komentar oleh abu fadl | 0, Juli 18, 2007

Wednesday, July 11, 2007

Polling CNN: Mayoritas Rakyat Palestina Masih Dukung Hamas

eramuslim.com

Sabtu, 7 Jul 07 20:05 WIB

Sebuah polling pendapat yang digelar jaringan informasi Amerika, CNN, meneguhkan kepercayaan publik Palestina masih ada pada Hamas. Hasil ini bisa disebut cukup mengejutkan, karena meski Hamas pemenang telak pemilu 2006, namun mereka kini berada dalam posisi tersingkir dari pemerintahan Palestina pimpinan Abbas yang berkuasa di Tepi Barat.

Para responden juga menduga akan ada pemisahan Palestina, antara Ghaza yang dikuasai Hamas dengan Tepi Barat yang dikuasai Fatah.

Menjawab pertanyaan, mana di antara Fatah dan Hamas atau lembaga lain yang lebih dipercaya, sebanyak 52% atau 4807 orang memilih Hamas. Sementara sebanyak 17% atau 814 responden saja yang memilih Fatah. Yang mengejutkan juga, ada 28% atau 1.346 orang responden yang menyatakan tidak mempercayai siapapun dalam kaitan masalah yang mereka alami di Palestina. Sedangkan lembaga selain Fatah dan Hamas, disebutkan hanya dipilih oleh 3% responden atau 127 orang.

Adanya hasil polling yang sangat sedikit memberikan kepercayaan pada selain Hamas dan Fatah, juga menunjukkan wujud kesenjangan yang terjadi antara aktifis sebuah organisasi dengan masyarakat Palestina. Karena bagaimanapun sebenarnya masih sangat banyak organisasi dan lembaga yang ikut serta dalam mencari jalan keluar masalah Palestina.

Di sisi lain, meski Hamas telah menjalani roda pemerintahan satu tahun dalam kondisi embargo dan memunculkan kesulitan ekonomi luar biasa di masyarakat Palestina, ternyata kepercayaan publik tidak goyah. Mereka tetap memilih Hamas sebagai organisasi yang bisa dipercaya membawa kebaikan bagi negara mereka.

Terkait perselisihan antara Hamas dan Fatah, sebanyak 58% responden memandang bahwa perselisihan itu akan berakibat pada pemisahan Ghaza dan Tepi Barat. Sejumlah peristiwa belakangan yang terjadi di Ghaza, kini memang membawa dampak pemisahan politik antara Ghaza dan Tepi Barat. Hamas sejak 14 Juni lalu menguasai Ghaza, sedangkan Fatah menguasai Tepi Barat. (na-str/iol)

Friday, July 6, 2007

Sayid Hasan Nasrallah Mencium Tangan Rahbar

Sayid Hasan Nasrallah Mencium Tangan Rahbar

Jul 04, 2007 at 07:53 AM

Oleh: Telaga Hikmah

"Pembukaan konferensi international "Pembelaan terhadap Intifadah" yang berlangsung pada hari selasa lalu disertai dengan pidato penting dari Pemimpin Revolusi Islam Iran Sayid Ali Khâmenei. Setelah Rahbar menyelesaikan pidatonya dan berjalan melewati ruangan konferensi, Sayid Hasan Nasrallah (pemimpin Hizbullah) berdiri dari tempatnya berjalan mendekati Rahbar dan mencium tangan beliau.

Pembukaan konferensi international "Pembelaan terhadap Intifadah" yang berlangsung pada hari selasa lalu disertai dengan pidato penting dari Pemimpin Revolusi Islam Iran Sayid Ali Khâmenei. Setelah Rahbar menyelesaikan pidatonya dan berjalan melewati ruangan konferensi, Sayid Hasan Nasrallah (pemimpin Hizbullah) berdiri dari tempatnya berjalan mendekati Rahbar dan mencium tangan beliau. Selanjutnya diikuti oleh Dr. Ramadan Abdullah (Pemimpin Jihad Islam Palestina) dan Khaled Masy'al (Ketua Urusan Politik Hamas) melakukan hal yang sama. Dalam peristiwa itu, para pejabat-pejabat lainnya juga berkesempatan menyampaikan rasa terimakasihnya kepada pemimpin revolusi.

Dua hari kemudian, saya pergi menemui Sayid Hasan Nasrallah dan berdialog dengan beliau. Apa yang membuat Sayid bersikap tawadhu dan mencium tangan Rahbar di tengah-tengah majlis resmi itu? Beliau berkata: "Saya sengaja melakukan -tentunya dengan segala ketulusan hati- hal ini, disebabkan karena tahun ini semua media dunia menjuluki saya sebagai "manusia teladan" dan di seluruh Negara Arab juga dikenal sebagai "pemimpin tersukses di dunia Arab". Akan tetapi di majlis penting ini yang dihadiri oleh para pemimpin gerakan islam dunia dan juga pakar-pakar politik negara-negara Islam serta disiarkan langsung media TV keseluruh pelosok dunia, saya melakukan hal ini untuk menunjukkan keseluruh penduduk dunia yang mengenal saya bahwa saya adalah prajurit Rahbar pemimpin tertinggi revolusi Islam Iran.

Sikap dan perbuatan Sayid Hasan Nasrallah ini menunjukkan ketinggian dan kemuliaan kedudukan Rahbar, Kemuliaan yang membuat pemimpin Hizbullah Libanon itu mencium tangan Rahbar dengan penuh keikhlasan dan itu dilakukan di tengah-tengah kalangan para pemimpin besar Arab. (Kisah dari: Hujjatul Islam dan Muslimin Masihi Muhajiri).[SN]

Politik Ambigu Brown

Lintas Warta Kamis 05 Juli 2007

http://indonesian.irib.ir/khabar/lintassatu.htm

Politik Ambigu Brown

Berkat upaya keras gerakan Hamas, akhirnya wartawan BBC, Alan Jhonston berhasil dibebaskan dari jerat tawanan selama 114 hari. Johnston pada tanggal 12 Maret lalu sempat diculik oleh kelompok Tentara Islam Palestina. Segera setelah pembebasan dirinya, Johnston lewat konfrensi pers yang digelar besama dengan PM Kabinet Persatuan Nasional Palestina, Ismail Haniyeh, menyatakan, bahwa kebebasan dirinya dari tangan penculik merupakan hasil jerih payah gerakan Hamas. Menurutnya, Gerakan Hamas merupakan organisasi kerakyatan Palestina yang terbaik dan terkuat, yang bisa menjamin keamanan dan konsitusi di Jalur Gaza. Sementara itu, Hamas sendiri menilai bahwa aksi pembebasan wartawan BBC itu sebagai aksi kemanusiaan.

Sejauh ini, terdengar kabar bahwa sebagai ganti dari pembebasan Johnston, Hamas akan memberikan imbalan balik kepada kelompok Tentara Islam berupa pemberian ijin penggunaan senjata yang ditujukan hanya untuk kepentingan melawan ancaman Rezim Zionis Israel. Jubir Hamas, Abu Zahri dalam wawancaranya dengan stasiun berita Al-Alam menyatakan, sebenarnya Mahmud Al-Abbas telah mengetahui informasi detail lokasi penculikan Johnston, namun Al-Abbas enggan mengungkapkan informasi itu karena alasan yang tak jelas. Abu Zahri menambahkan, Penasehat Keamanan Badan Otoritas Palestina, Muhammad Dahlan, juga sempat melancarkan tekanan untuk mempersulit proses pembebasan Alan Johnston.

Dibebaskanya Johnston berlangusng ketika situasi keamanan di Gaza relatif lebih kondusif setelah kawasan itu berhasil dikendalikan oleh Hamas. Wartawan BBC itu ditangkap pada saat situasi Gaza masih memburuk dan berada di bawah kontrol faksi Fatah. Aksi penculiakan Johnston tersebut setidaknya menyiratkan dua pesan. Pertama, kelompok Hamas yang berhasil meraih kursi mayoritas parlemen Palestina pada pemilu 2006, masih setia dengan peraturan dan norma internasional. Kedua, Kabinet Persatuan Nasional Palestina yang saat ini tengah mengendalikan kontrol kawasan Gaza, relatif berhasil mengembalikan situasi keamanan di wilayah tersebut.

Namun ironisnya, meski Alan Johnston berhasil dibebaskan oleh Hamas, PM Inggris, Gordon Brown justru mempertontonkan politik ambigu. Satu sisi, ia menilai positif peran Hamas dalam pembebasan Johnston, namun di sisi lain ia mengelu-elukan Mahmud Al-Abbas. Sikap puji Brown kepada pemimpin otorita Palestina ini sejatinya merupakan pengakuan secara resmi atas pemerintahan hasil penunjukan sepihak Al-Abbas, dan penafian atas pemerintahan demokratis Palestina di bawah pimipinan Hamas. Padahal kalangan pers Palestina tidak menyebutkan sama sekali peran Al-Abbas dalam pembebasan Johnston, tapis malah menyebutkan bahwa ia justru berusah mengacaukan proses pembebasan wartawan Inggris itu. Tampaknya, Brown masih saja mengikuti gaya lama kebijakan standar ganda Tonny Blair dalam menghadapi persoalan Palestina.

Gambar porno pemimpin Fatah senjata paling menakutkan dari Hamas

Gambar porno pemimpin Fatah senjata paling menakutkan dari Hamas

Hamas dalam serangan terakhirnya ke pusat-pusat intelijen Fatah di Gaza mendapatkan harta karun informasi intelijen salah satunya adalah perbuatan amoral pemimpin-pemimpin Fatah.

Informasi ini berupa kaset video porno yang menggambarkan perilaku para pemimpin Fatah sedang berasyik-masyuk dengan wanita-wanita nakal. Saat ini, kaset-kaset video ini menjadi senjata sangat menakutkan bagi para pemimpin Fatah yang sewaktu-waktu dapat digunakan oleh Hamas.

Kaset-kaset video yang menggambarkan betapa tidak bermoralnya para pemimpin Fatah yang saat ini berada di tangan Hamas menggambarkan betapa kejinya strategi yang dipakai oleh Mossad Israel menghadapi para pemimpin Fatah dengan tujuan film seperti ini dapat dipakai untuk menekan dan memaksa mereka untuk mengikuti keinginan Tel Aib. Israel dengan mudah memaksa mereka dengan syarat bila perintah mereka tidak dilakukan, maka film tersebut akan disiarkan.

Ketika para pemimpin Fatah melarikan diri dari Gaza ke Ramallah, mereka mengeluarkan perintah kepada penanggung jawab keamanan di Gaza untuk segera menghancurkan dokumen-dokumen rahasia yang mereka miliki baik di rumah-rumah mereka maupun di gedung pusat penyimpanan dokumen-dokumen rahasia itu.

Ternyata mereka yang bertanggung jawab untuk mengamankan dan menghancurkan dokumen-dokumen itu tidak melakukan apa yang diperintahkan. Mereka juga ikut melarikan diri ke Ramallah untuk menyelamatkan diri mereka. Sikap inilah yang membuat Hamas berhasil mendapatkan bukti-bukti berupa kaset video.

Saat ini, para pejabat Fatah yang biasanya menyerang Hamas tidak banyak membuka mulut. Sikap mereka ini membuktikan bagaimana mereka begitu ketakutan Hamas membongkar kebejatan mereka.

Sekaitan dengan penemuan kaset-kaset video porno para pejabat Fatah, Khulyah al-Hayyah salah seorang pejabat tinggi di Hamas menekankan bahwa Hamas tidak akan menayangkan video porno para pejabat Fatah. Namun, penyebaran film itu hanya tinggal menghitung hari karena banyak dari kaset-kaset video itu berada di tangan rakyat biasa.

Monday, July 2, 2007

Hamas: Kami Akan Sambut Pasukan Asing dengan Rudal dan Misil

Hamas: Kami Akan Sambut Pasukan Asing dengan Rudal dan Misil
http://www.eramuslim.com/berita
Senin, 2 Jul 07 09:05 WIB


Brigade Izzuddin Al-Qassam ancam kehadiran pasukan asing ke Palestina. Sayap militer Hamas itu menyatakan bakal menyambut kedatangan pasukan asing manapun yang menginjakkan kakinya di Ghaza dengan rudal dan misil-misilnya, karena menganggap mereka sama saja dengan penjajah.

Ancaman tegas itu disampaikan setelah Presiden Palestina Mahmud Abbas meminta penempatan pasukan internasional ke Ghaza guna memantau pemilu legislatif dan pemilu presiden yang akan dilangsungkan lebih cepat dari jadwal yang lazim. Undangan untuk pasukan internasional itu ke Ghaza lantaran Ghaza saat ini sudah dua pekan lebih dikuasai oleh Hamas, pemenang pemilu secara mutlak dalam pemilu legislatif tahun 2006.

Dalam pernyataannya, Al-Qassam menegaskan, “Kami sama sekali takkan membiarkan masuknya pasukan internasional ke Ghaza. Karena misi yang mereka bawa adalah misi mendukung satu kelompok di atas kelompok yang lain. Karenanya, kami akan sikapi pasukan asing itu sebagaimana pasukan penjajah. Dan kami takkan menyambutnya, kecuali dengan rudal dan misil. ”

Dalam seruannya, Al-Qassam mengajak seluruh pihak di dunia internasional, “Untuk menolak keinginan Abbas yang bertujuan untuk memukul persatuan Palestina dan menambah kacau urusan internal Palestina serta memberikan penjajahan baru bagi Palestina. ” Menurut Al-Qassam, orang-orang lemah yang melakukan konspirasi sengaja mengundang kekuatan internasional untuk menutupi kelemahan dan kegagalan mereka dalam menerapkan perjanjian Dayton dan ingin memukul seluruh anasir perlawanan terhadap Israel di Palestina. (na-str/iol)

MEMANIPULASI PALESTINA

MEMANIPULASI PALESTINA

IRMAN ABDURRAHMAN

STAF ISLAMIC CULTURAL CENTER (ICC) JAKARTA

Selamat datang di Timur Tengah, wilayah yang berkisah tentang banyak hal. Di sana, ribuan tahun lalu, tiga agama besar dunia lahir dan peradaban moral ditinggikan. Namun, di sana pula, kedegilan, kebohongan, dan kezaliman, dari yang sederhana hingga yang paling kompleks sekalipun, ditebar hingga kini.

Dan tanah Kanaan, Palestina, menyajikan contoh yang paling lengkap serta aktual. Di sana, publik dunia dibuai dengan ilusi adanya dua negara yang sama-sama berdaulat, Palestina dan Israel. Tidak ada pendudukan, penindasan, dan kolonisasi Israel, seperti yang disuarakan rakyat Palestina. Lihatlah, kini yang terjadi adalah ‘konflik sipil’ antara sesama orang Palestina, Hamas dengan Fatah. Kalaupun ‘orang-orang bijak’ di Barat memboikot bantuan finansial dan Israel tidak mencairkan pajak, itu hanya karena rakyat Palestina telah salah memilih Hamas sebagai pemimpin mereka. Pilihlah figur-figur ‘independen’ , seperti Salam Fayyad, sang ‘perdana menteri’ baru. Maka, dijamin semua itu tidak akan terjadi.

Mari kita urai jalinan benang dusta yang secara canggih dirajut sehingga tampak bak sebuah ‘kebenaran’.

Solusi “Dua-Negara” ?

Pada pertengahan 1970-an, mayoritas negara anggota PBB mengakui eksistensi bangsa Palestina. Pada 1993, PLO, di mana Fatah adalah faksi terbesar di dalamnya, mengakui kedaulatan Israel di luar Tepi Barat dan Jalur Gaza, dua wilayah yang hanya 22 persen dari tanah historis Palestina. Dan, inilah solusi “dua-negara” yang didengung-dengungkan itu. Namun, adakah Israel mengakui kedaulatan Palestina dan adakah Otorita Nasional Palestina diakui wewenangnya di dua wilayah yang tinggal sekerat itu?

Jawabannya, kolonisasi terus berlangsung. Tepi Barat difragmentasi menjadi ribuan teritori yang beralih fungsi menjadi komune-komune Yahudi. Tembok pemisah yang sedang dibangun pun inci demi inci masuk ke dalam wilayah Palestina.

Sementara itu, Otorita Nasional Palestina tidak lebih daripada sekedar pemerintahan kota praja, yang hanya memiliki wewenang dalam urusan-urusan administrasi di Gaza dan sebagian distrik di Tepi Barat. Para pejabat Palestina pun tidak dapat bergerak bebas di teritori mereka sendiri tanpa izin dari pasukan keamanan Israel. Belum lagi berbagai penculikan dan penahanan para pejabat eksekutif dan legislatif Palestina. Adakah ini yang dinamakan negara yang berdaulat?

Moderat vs Ekstrimis?

Media-media Barat punya persepsi sendiri mengenai konflik Fatah-Hamas. Koresponden BBC, Paul Reynolds, menyebutnya sebagai, “Pertarungan yang lebih luas antara moderasi (Fatah) dan ekstrimisme (Hamas) di dunia Arab dan Islam”. Tiba-tiba saja, dunia lupa sejarah kelam Fatah yang berlumuran darah, bukan saja warga Yahudi, tetapi juga saudara sebangsa mereka sendiri, rakyat Palestina. Tiba-tiba saja dunia abai mengenai tokoh Fatah seperti Mohammad Dahlan, yang Maret 2007 lalu diangkat Mahmoud Abbas sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional. Human Right Wacth menyebut Dahlan berada di balik aksi-aksi kekerasan berupa penangkapan tanpa proses peradilan, penyiksaan, dan pembunuhan para aktivis, jurnalis, dan tokoh-tokoh penentang Fatah (”Human Right under The Palestinian Authority”, 1997).

Itukah yang dimaksud dengan moderat? Adakah moderasi bermakna tokoh seperti Dahlan, yang secara reguler bertemu pejabat-pejabat tinggi Israel dan menerima pasokan senjata dari AS melalui Israel untuk mempersenjatai milisinya demi memerangi bangsanya sendiri? Adakah seorang yang moderat berarti tokoh seperti Salam Fayyad, yang mengabdi selama 8 tahun di Bank Dunia dan 6 tahun di IMF serta berteman baik dengan Condoleezza Rice? Dan, adakah pula moderasi itu juga merujuk kepada figur seperti Mahmoud Abbas, yang menulis buku 600 halaman tentang Kesepakatan Oslo tanpa menuliskan secuil kata pun tentang “pendudukan” Israel?

Jika itu yang dimaksud Barat dan Israel sebagai moderat, tampaknya rakyat Palestina lebih menyukai para ‘ekstrimis’ ketimbang para moderat itu. Rakyat Palestina memilih Hamas bukan karena mereka menginginkan sebuah negara Islam. Mereka memilih Hamas karena lelah dengan Fatah yang korup dan lemah di hadapan Israel. Mereka memilih Hamas karena fitrah setiap bangsa terjajah di mana pun untuk tidak mendukung para kolaborator imperialis.

Kudeta Siapa?

Jika sebuah pemerintahan terpilih diboikot, diculik menteri-menterinya, dan rivalnya dipersenjatai kekuatan-kekuatan asing, lalu akan kita sebut apa ketika ia membela diri? Barat sekali lagi punya jawabannya yang ‘khas’: Hamas telah melakukan kudeta dengan ‘menguasai’ Gaza.

Mungkin benar bahwa Hamas bertindak di luar koridor hukum, tetapi apakah lantas tindakan Abbas membentuk ‘pemerintahan darurat’ dapat dibenarkan? Menurut Konstitusi Palestina, tindakan Abbas menunjuk perdana menteri baru, dan juga pembentukan ‘pemerintahan darurat’, adalah ilegal.

Pasal 45 dari konstitusi itu menyatakan bahwa presiden tidak berhak menunjuk seorang perdana menteri yang tidak merepresentasikan partai pemenang pemilu (Hamas). Pasal 67 dan 79 menyatakan bahwa perdana menteri dan kabinet yang baru hanya dapat diambil sumpahnya oleh Dewan Legislatif sedangkan Fayyad beserta kabinetnya disumpah oleh Abbas. Jika demikian, akan kita sebut apa kabinet Fayyad sementara konstitusi Palestina tidak memberi wewenang kepada presiden untuk menyatakan ‘kedaruratan’ tanpa penetapan Dewan Legislatif? Dan, atas dasar apa nantinya negara-negara lain berhubungan dengan ‘pemerintahan darurat’ ini? Sebuah problem besar ketika, pada saat yang sama, Ismail Haniyah tetap mengklaim haknya sebagai perdana menteri yang sah.

Sejatinya, ini bukanlah konflik sipil tetapi perlawanan bangsa terjajah menghadapi segelintir elit Fatah yang menggadaikan kedaulatan ke tangan kekuatan-kekuatan neo-imperialis.

Laporan pribadi terakhir mantan utusan PBB untuk Timur Tengah (End of Mission Report), Alvaro de Soto, secara eksplisit menyebutkan bahwa penyebab kekacauan di Palestina adalah ‘kegagalan’ AS mendorong Israel ke arah diplomasi. Bagi de Soto, prasyarat-prasyarat yang diajukan Israel, yang kemudian diamini AS, mustahil dipenuhi Palestina, dan ini menyebabkan jalan menuju negosiasi menjadi buntu. De Soto juga mengecam AS dan Uni Eropa yang menerapkan boikot finansial tanpa memikirkan lebih jauh nasib rakyat Palestina.

Sikap dan pendekatan negatif Israel terhadap Palestina, bahkan saat Fatah yang pragmatis itu berkuasa, semestinya menjelaskan kepada semua pihak bahwa solusi “dua-negara” hanyalah delusi yang diciptakan rezim Zionis untuk sekedar mengulur-ulur waktu (buying time) agar program ilegal kolonisasi dapat terus berlangsung demi mewujudkan nubuat-nubuat fasistik mereka.

Sayyid Hasan Nasrullah gagal diteror

Sayyid Hasan Nasrullah gagal diteror


http://infosyiah.wordpress.com

Sumber-sumber Lebanon membongkar konspirasi Mossad dan sebagian pejabat negara-negara Arab untuk melakukan aksi meneror Sayyid Hasan Nasrullah Sekjen Hizbullah.

Harian Alwathan cetakan Qatar menukil dari sumber-sumber yang dapat dipercaya di Lebanon pada hari Sabtu mengumumkan bahwa ada upaya untuk meneror Sayyid Hasan Nasrullah Sekjen Hizbullah. Dalam aksi ini, Mossad dibantu oleh sebagian pejabat intelijen negara-negara Arab seperti Muhammad Dahlan mantan ketua badan keamanan dan penasihat Abu Mozen ketua PLO dan Amir Bandar bin Sulthan mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika.

Sumber-sumber ini menyebutkan bahwa Muhammad Dahlan dan Amir Bandar bin Sulthan bertugas untuk mengepung pusat-pusat militer Hizbullah di Lebanon Selatan.

Ali al-Jifal wartawan Irak yang bermukim di Syria dalam majalah mingguan Suri al-Madar dalam hal ini menulis: Dahlan dan Bandar secara berkesinambungan melakukan hubungan dengan CIA dan Mossad.

About Me

"aku kecil" tak memiliki apapun juga dihadapan "AKU BESAR". apa yang bisa disombongkan dari "aku kecil" ,padahal "aku kecil" adalah bentuk ketiadaan yang abadi. sedang "AKU BESAR", adalah keabadian itu sendiri.keabadian adalah KEADAAN MURNI" tanpa tersentuh sedikitpun oleh ketiadaan."aku kecil" adalah fakir, miskin, lemah, tak ada yang bisa diharapkan."AKU BESAR" telah membuat sepertinya "aku kecil" memiliki eksistensi, padahal eksistensi mutlak ada pada "AKU BESAR". "aku kecil" adalah aku sendiri,dzulfikar. !!! MAHA BESAR DAN SEMPURNA DIRIMU TUHAN !!!