dua organisasi perjuangan islam yang berjuang melawan israel dan anteknya (usa dan konco-konconya)untuk mendapatkan hak - hak tanah mereka yang terampas.SEMOGA ALLAH SWT MELAKNAT PARA PENGUASA DUNIA ISLAM YANG berdiam diri terhadap penderitaan rakyat palestina dan libanon (ATAU BAHKAN BERTEMAN DENGAN ZIONIS ISRAEL DAN USA). PENGUASA DUNIA ISLAM DAN ARAB MEMANG BANYAK YANG OPPORTUNIS. mengatas namakan islam tapi jauh dari perilaku islam. mari kita dukung perjuangan HIZBULLAH dan HAMAS !!!!

Monday, June 25, 2007

Anggota Parlemen Tolak Pernyataan Pemimpin Fatah Sudutkan Hamas

Anggota Parlemen Tolak Pernyataan Pemimpin Fatah Sudutkan Hamas
[ 25/06/2007 - 10:53 ]

http://www.palestine-info.com


Infopalestina-Gaza : Anggota Parlemen dari Fraksi Hamas, Yahya Musa dalam konfrensi persnya tadi pagi (25/6) menegaskan, tuduhan Azam Ahmad tidak perlu dijawab, karena pernyataannya penuh dengan kebohongan.

Musa mengatakan, pernyataan Azam Ahmad yang menyebutkan kerusakan yang timbul di Palestina akibat kepemimpinan Hamas adalah dusta. Ini adalah dagelan politik yang dipertontonkan pemimpin Fatah, AzamAhmad. Tidak ada bukti sedikitpun atas pernyataannya itu.

Ia menambahkan, rakyat kita paham betul, pernyataan tersebut mengada-ngada dan pemutar balikan fakta yang dibuat Azam Ahmad.

Dalam pada itu, aleg Hamas ini mengkritik KTT Kuartet Sharm El-Syaikh yang akan dihadiri oleh presiden Palestina Mahmud Abbas dan Ehud Olmert. Ia menyebutkan, Abbas telah membelakangi negaranya serta menghadapkan wajahnya ke Zionis dengan meminta senjata dan dana.

Musa mengingatkan mengalihkan masalah Tepi Barat dari masalah politik ke masalah pengungsi. Karena hal itu akan membuat rakyat Palestina dibawah bayang-bayang Israel dan akan kehilangan kehormatan nasionalnya. Dengan demikian bangsa Palestina tidak hidup dengan kelaparanya akan tetapi hidup dengan kemuliaanya, pengorbanan dan bertanggung jawab dalam situasi sulit seperti ini. (asy)

KTT Syarm Al-Syeikh Konspirasi Habisi Gerakan Perlawanan

KTT Syarm Al-Syeikh Konspirasi Habisi Gerakan Perlawanan
[ 25/06/2007 - 02:14 ]

http://www.palestine-info.com

Gaza – Infopalestina: Ahmad Abu Halabiah, anggota parlemen Palestina dari Fraksi Perubahan dan Reformasi dari gerakan Hamas menegaskan, KTT Syarm Syeikh adalah konspirasi atas masalah Palestina yang targetnya adalah menghabisi gerakan perlawanan.

Abu Habaliah menambahkan, sudah diketahui semua orang Israel tidak akan pernah memberikan apa-apa kepada pihak Palestina atau Mahmod Abbas apalagi ia dianggap sebagai lelaki lemah dan semua yang keluar di Syarm Syeikh hanya berupa dengungan media tanpa ada hasil di lapangan.

Ia menambahkan, pertemuan semacam ini adalah konspirasi atas kasus Palestina, rakyatnya, dan targetnya adalah membekuk perlawanan di sana. Dirinya yakin bahwa Amerika menekan agar KTT itu mendukung Abbas karena Jalur Gaza sudah dikuasai oleh Hamas.

Ia mengisyaratkan, tidak ada bedanya antara pertemuan ini dengan pertemuan sebelumnya di Syarm El-Syeikh. Semuanya bertujuan mempelajari bagaimana menghadapi semua perlawanan Palestina dan bukan hanya Hamas. Namun utamanya adalah gerakan ini. (atb)

Rahasia Koordinasi antara Arab dan Israel Hadapi Hamas


Rahasia Koordinasi antara Arab dan Israel Hadapi Hamas

[ 22/06/2007 - 12:29 ]

http://www.palestine-info.com

Shalih An-Naami

Harian Maarev edisi 20 Juni menyatakan, sejumlah negara Arab mengirim deleasi ke Tel Aviv untuk berunding dengan pemerintah koloni Israel soal mekanisme menghadapi perkembangan terkini di Palestina setelah Hamas menguasai Jalur Gaza. Ben Kasbit, reporter penting di harian ini menyatakan kepada harian yang sama edisi Senin pekan ini, peristiwa-peristiwa Gaza memberikan peluang kepada penciptaan hubungan strategi antara Israel dengan negara-negara Arab dan Islam moderat. Ia mengisyaratkan, hubungan itu semakin kuat dilakukan oleh pemimpin negara Arab secara rahasia dengan pimpinan Israel sejak Hamas menguasai Jalur Gaza. Dalam kontak rahasia itu tersimpulkan bahwa negara-negara Arab merasa dalam poros yang sama dengan Israel setelah Hamas menguasai Jalur Gaza.

Dalam konteks yang sama, Jerusalem Post Koran Israel edisi Inggris mengungkap, elit gerakan Fatah belakangan ini meminta kepada pemerintah untuk menghentikan operasi keamanan terhadap kader-kadernya di Tepi Barat untuk tujuan agar mereka bisa menekan aktifis dan pimpinan gerakan Hamas di wilayah yang sama. Harian mengisyaratkan, tuntutan Fatah ini disampaikan kepada Israel melalui pejabat Amerika dan Eropa ketika mereka bertemu pada beberapa pekan lalu. Meski harian ini tidak mengisyaratkan pemerintah Israel sudah merespon positif terhadap tuntutan Fatah ini. Namun mereka menyatakan bahwa aktifis Fatah bersenjata masih mengusir aktifis Hamas di wilayah yang dikuasai oleh Israel secara langsung di Tepi Barat yang disebut wilayah B dan C. Seorang pejabat tinggi di Fatah menyatakan kepada harian Jerusalem Post bahwa Israel harus membantu kami dalam membereskan Hamas di Tepi Barat.

Israel : Konsentrasi Dukung Abbas

Di sisi lain, kementerian luar negeri Israel Tsepi Livni menyataka, tujuan Israel pada saat ini terkonsentrasi mendukung presiden Mahmod Abbas dan mengisolasi Hamas disamping menghapus legalitas ril di Jalur Gaza setelah dikuasai Hamas. Kepada radio Israel edisi Senin, Tsepi Livni mengingatkan bahaya keberhasilan Hamas dalam mengegolkan proyeknya karena dinilai sebagai gerakan memiliki landasan ideology agama radikal. Israel menolak eksistensi Israel yang berkonsentrasi dengan keyakinan-keyakinan agama. Livni menilai, setelah Hamas menguasai Jalur Gaza maka memeranginya semakin mudah sebab dunia internasional lebih yakin bekerja mengisolasi Hamas dan mendukung Abu Mazen. Ia menambahkan, untuk berhasil sampai kepada kesepakatan antara Abbas dan kelompok Palestina moderat harus melalui sejumlah tahap untuk menjamin bahwa negara Palestina masa depan tidak akan berhaluan terorisme.

Harian Israel Haaretz edisi Senin lalu juga menyatakan, Olmert yang kini berkunjung ke Amerika dirinya komitmen dengan melanjutkan untuk memperkuat pasukannya di Tepi Barat untuk membendung peristiwa seperti di Jalur Gaza. Ia menambahkan, Abbas komitmen dengan langkah pasti menghadapi Hamas dan Israel akan bekerjasama dengan pemerintahan Palestina yang menuruti syarat Tim Kwartet.

Kontroversi Israel soal manfaat mendukung Abu Mazen

Namun di Israel masih ada kontroversi manfaat mendukung Abu Mazen dan gerakan Fatah dalam menghadapi Hamas setelah gerakan terakhir ini mampu menguasai Jalur Gaza. Kontroversi ini muncul setelah PM Israel, Ehud Olmert ingin mencairkan pajak milik Palestina kepada Abu Mazen yang ditahanan Israel. Dalam editorial harian Israel Haaretz disebutkan, langkah Olmert bisa didukung dalam hal ini sebab Abu Mazen dianggap sebagai pemimpin Palestina satu-satunya yang memungkinkan buat Israel untuk melakukan kesepakatan-kesepakatan. Bahkan dalam rangka ini Israel harus memberikan bantuan ekonomi, memberikan harapan politik hakiki, menjamin pembekuan permukiman Yahudi, membekukan permukiman yang tidak disiplin. Namun harian in mengingatkan bahwa Israel melakukan kesalahan besar usai kemenangan Hamas dalam pemilu sebab politik yang dianut Israel terhadap Hamas justru makin memantapkan posisi dan popularitas Hamas di mata rakyat Palestina.

Di sisi lain, pemimpin Likud menyatakan bahwa percuma berharap kepada Abu Mazen karena ia pemimpin yang lemah. Netenyahu menilai, harus ada koordinasi dengan Amerika, Mesir, Jordania dalam membatasi bahaya penguasaan Hamas terhadap Jalur Gaza. Sementara Sever Boltsker, pengamat politik di Yediot Aharonot menilai langkah Israel mendukung Abu Mazen adalah ilusi pribadi. Ia menambahkan, Israel melakukan kesalahan besar ketika mendukung Fatah di Tepi Barat sebab ia gerakan lapuk.

Orientalis Dr. Ja Bachor menyatakan, keberadaan Israel di Tepi Barat memberikan kehidupan kepada gerakan nasional Palestina, jika kita keluar dari sana maka sudah selesai masalah Palestina dan kelompok Islam akan menguasai Tepi Barat juga. Menurutnya, ini adalah satu-satunya dalam sejarah yang pernah terjadi. (atb)

Hamas menguasai bangunan pusat intelijen Abu Mozen

Hamas menguasai bangunan pusat intelijen Abu Mozen

http://infosyiah.wordpress.com

Sumber-sumber berita zionis mengakui bahwa penyitaan data-data dari pusat intelijen Palestina di Gaza oleh Hamas merupakan bencana terbesar bagi Mossad di abad ini yang tidak pernah terjadi dalam sejarah.

Sumber berita ini mengatakan bahwa begitu besarnya bencana itu sehingga melebihi kejadian ketika penguasaan intelijen nazi setelah perang dunia kedua dan intelijen partai komunis di Jerman timur pada dekade 90.

Menurut sumber ini, data-data yang jatuh ke tangan Hamas untuk Hamas sendiri dan kemudian untuk Iran dan Syria menunjukkan berbagai aksi intelijen Mossad dan beberapa servis intelijen negara-negara Barat. Sebagian dari data itu terkait dengan beberapa nama dari utusan rahasia dan sebagian tokoh-tokoh Israel yang berhubungan dan bekerja sama dengan orang-orang Palestina.

Sebuah sumber rezim Zionis menyebutkan bahwa data-data yang tersimpan di gedung intelijen Abu Mozen dan Dahan di Gaza yang jatuh ke tangan Hamas sangat berbahaya dan rahasia dibandingkan data-data yang ditinggalkan Saddam Husein di perang tahun 2003. Data yang ditinggalkan Saddam menunjukkan bahwa Saddam Husein hanyalah boneka tidak lebih.

Sumber ini menegaskan, data-data yang didapatkan Hamas dari pusat intelijen Abu Mozen bak bom waktu yang disiapkan oleh Hamas, Syria, Iran dan Hizbullah yang akan dimanfaatkan sewaktu-waktu.[infosyiah]

Kecerdikan Hamas kecemasan Barat

Kecerdikan Hamas kecemasan Barat

http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/20/kecerdikan-hamas-kecemasan-barat/#more-840

Saleh Lapadi

Pada bulan Januari tahun 2006 Hamas dalam pemilihan anggota Dewan Legislatif Palestina memenangkan mayoritas kursi yang disediakan. Dari 132 kursi yang diperebutkan Hamas berhasil merebut 76 kursi. Kemenangan ini akibat keikutsertaan Hamas dalam pemilu setelah pada tahun 1996 mereka melakukan boikot terhadap pemilihan. Di samping itu kemenangan mereka diakibatkan penurunan drastis popularitas Fatah setelah dinilai korup dan tak mampu mengurusi Palestina. Kemenangan Hamas dilakukan dalam pemilihan umum yang bersih dan diawasi oleh negara-negara asing.

Dalam sistem politik Palestina, Perdana Menteri dipilih oleh Presiden Otoritas Nasional Palestina dan bukan dipilih oleh Dewan Legislatif Palestina atau tidak juga dipilih secara langsung oleh rakyat. Meskipun begitu, sang perdana menteri masih umumnya mewakili koalisi mayoritas di parlemen. Dan pada tanggal 29 Maret 2006 Ismail Haniyeh terpilih menjadi Perdana Menteri Palestina sampai Presiden Otoritas Nasional Palestina Mahmud Abbas pada tanggal 14 Juni 2007 membubarkan pemerintah koalisi Hamas-Fatah dan mengangkat Salam Fayyad sebagai Perdana Menteri yang baru.

Kemenangan Hamas dalam pemilihan anggota Dewan Legislatif yang berujung pada pengangkatan Ismail Haniyeh sebagai Perdana Menteri memunculkan kecemasan bagi Israel, Barat dan negara-negara Arab pro perdamaian Arab Israel. Sejak awal membentuk kabinetnya Ismail Haniyeh mengumumkan tidak mengakui secara resmi keberadaan negara Israel. Hal itu membuat negara-negara Barat menghentikan bantuan kepada Palestina. Hanya keteguhan hari rakyat Palestina yang benci dengan sikap Israel selama ini yang memberi semangat kepada pemerintahan Haniyeh.

Konflik Hamas dan Fatah

Konflik yang terjadi selama ini antara Hamas dan Fatah merupakan sebuah miniatur dari tarik-menarik antara kekuatan-kekuatan yang ingin melakukan perdamaian dengan Israel dan kekuatan-kekuatan yang menganggap hanya perjuangan yang dapat membebaskan rakyat Palestina dari kebiadaban Israel. Fatah mewakili kelompok pro perdamaian dengan Israel dan Hamas mewakili kelompok yang kontra perdamaian dengan Israel. Rakyat Palestina sendiri telah muak dengan berbagai macam perundingan yang dilakukan dengan Israel, karena ujung-ujungnya Israel tidak pernah menghormati hasil-hasil perundingan itu. Setiap kali perjanjian gencatan senjata ditandatangani, Israel adalah pihak pertama yang melanggar perjanjian itu. Itulah mengapa rakyat Israel memilih dan mendukung Hamas yang memperhatikan mereka dan benar-benar berjuang bagi rakyat Palestina.

Di satu sisi, Hamas yang secara sah memerintah di Palestina diboikot oleh negara-negara Barat dan sebagian negara-negara Arab yang menghentikan bantuannya, bantuan dana tetap mengucur untuk Fatah. Tidak itu saja dalam ketegangan yang semakin memuncak, Fatah mendapat kiriman senjata beberapa truk lewat Mesir. Hamas berhasil menghentikan sebuah truk yang membawa senjata dan beberapa truk yang lain berhasil lolos dan sampai ke tangan Fatah.

Perundingan Mekkah dan Kabinet Persatuan

Konflik antar Fatah dan Hamas semakin meruncing. Korban yang jatuh di kedua belah pihak semakin besar. Raja Abdullah dari Arab Saudi kemudian mengusulkan sebuah perundingan di Mekkah. Ismail Haniyeh dan Mahmud Abbas menyetujui untuk menghentikan konflik yang terjadi. Raja Abdullah memanfaatkan Mekkah sebagai kiblat kaum muslimin dan simbol persatuan untuk mendamaikan kedua kelompok yang berselisih.

Sebenarnya, dalam masalah ini, usulan Raja Abdullah merupakan pengkhianatan atas suara rakyat Palestina yang telah diberikan kepada Hamas dalam pemilihan yang jujur, bebas dan rahasia. Raja Abdullah, negara-negara Arab bahkan Barat tidak pernah menyetujui pemilihan demokratis yang terjadi di Palestina. Demokrasi bagi Barat biasanya dinyanyikan dengan mengatakan bahwa sebuah pemilihan harus berlandaskan suara terbanyak. Bila sudah terpenuhi mereka akan menambahkan lagi bahwa harus ada persaingan. Bila ini juga sudah terpenuhi, biasanya mereka menambahkan alasan lain, harus ada kebebasan yang menjamin bahwa pemilihan umum itu sebagai manifestasi sebuah demokrasi. Terakhir, bila hal ini juga sudah dipenuhi, mereka akan mengatakan bahwa kelompok pemenang memiliki ideologi yang menyimpang. Seluruh syarat-syarat sebelumnya telah dipenuhi oleh Hamas, tapi mereka masih punya satu alasan pamungkas. Hamas memiliki ideologi menyimpang. Untuk itu Hamas dimasukkan dalam kelompok teroris. Padahal, kesalahan Hamas hanya satu tidak mengakui Israel dan meyakini jalan perjuangan yang dapat membebaskan mereka dari Israel

Ismail Haniyeh secara cerdik menerima usulan Raja Abdullah dan menerima upayanya sebagai pihak penengah konflik Hamas-Fatah ini. Mahmud Abbas lebih antusias menuju Mekkah, karena itu berarti dalam tawar-menawar ini, Fatah akan mendapat jatah kue kekuasaan. Dan akhirnya memang demikian. Dalam perundingan itu disetujui untuk membentuk “Kabinet Persatuan”.

Mahmud Abbas merasa memang dengan upayanya yang tersalurkan dalam perundingan Mekkah. Namun, ternyata ia dan Raja Abdullah salah perhitungan. Karena ternyata yang paling banyak diuntungkan adalah Hamas. Secara politis, pemerintah yang dipimpinnya mau tidak mau harus diakui oleh dunia internasional, terutama kelompok kuartet; sebutan bagi kelompok Uni Eropa, Amerika, Rusia dan PBB, karena mengikutsertakan Fatah dan menteri dari kelompok netral.

Sementara itu Mahmud Abbas yang merasa gembira beberapa kabinet Palestina berasal dari orang-orangnya secara sesumbar langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Kabinet Persatuan ini akan mengakui Israel, namun Ismail Haniyeh segera menepis isu itu. Ternyata, tidak saja ia harus menerima Hamas dan menyetujui langkah-langkah Hamas setelah Fatah mendapat kursi di kabinet Haniyeh, pernyataan Ismail Haniyeh bahwa Kabinet Persatuan juga tidak menerima Israel, membuat ia menjadi salah tingkah; baik menghadapi Hamas karena terikat perjanjian dan menghadapi Israel karena pro perdamaian Palestina Israel.

Berbeda dengan permasalahan Mahmud Abbas, kesediaan Arab Saudi menjadi pihak ketiga dalam upaya menyelesaikan konflik Hamas dan Fatah, Arab Saudi yang merasa berjasa, mau tidak mau secara finansial harus membantu kabinet Ismail Haniyeh. Dan secara politis, ketika muncul lagi konflik, Hamas tidak sendirian tapi di belakangnya ada Arab Saudi.

Sampai di sini, game yang coba dimainkan oleh Arab Saudi dalam perundingan Mekkah sebenarnya dimenangkan oleh Hamas berkat kecerdikan Ismail Haniyeh.

Usulan gencatan senjata yang ditolak

Setelah terbentuknya Kabinet Persatuan, sekali lagi terjadi pelecehan demokrasi oleh Barat. Hubungan mereka dengan pemerintah Palestina dilakukan dengan mengontak menteri-menteri dari kelompok netral. Upaya mereka ini dalam rangka memarginalkan Hamas. Namun, ini juga jelas menjadi kemenangan Hamas, karena tetap saja hubungan itu masih dalam kontrolnya. Dengan memiliki Kabinet Persatuan, upaya mengontrol kelompok-kelompok oposisi lebih baik.

Israel meradang dan tidak mampu melihat kemenangan berturut-turut dalam diplomasi dan kebijakan Hamas. Mereka kemudian melakukan serangan militer yang lebih hebat terhadap rakyat Palestina. Namun, sebagaimana biasanya tindakan teror mereka ditujukan kepada tokoh-tokoh Hamas. Tidak urung Ismail Haniyeh menjadi sasaran bahkan rumahnya menjadi sasaran tembak rudal Israel. Semakin berkurangnya jumlah korban dari tokoh-tokoh Hamas menandakan bahwa kemampuan Hamas baik dari sisi militer dan intelijen semakin baik. Apa lagi mereka menguasai jalur Gaza yang berada di luar pendudukan Israel. Ini membuat mereka dengan mudah merencanakan serangan balik ke pemukiman Yahudi.

Mengikuti taktik yang dilakukan oleh Hizbullah, Hamas lewat Brigade al-Qassam menembakkan rudal-rudal ke arah pemukiman Yahudi. Rudal-rudal yang sebagian besarnya dibuat sendiri. Perang bertahun-tahun dengan Israel membuat Brigade ini semakin dewasa. Tentu saja Israel dibuat repot karena ketakutan yang melanda pemukiman Yahudi.

Menyaksikan hal ini, kembali lagi Mahmud Abbas sebagai corong Israel meminta kepada Hamas untuk melakukan gencatan senjata. Namun, ini ditolak oleh Hamas. Bila harus melakukan gencatan senjata, maka yang harus memulainya adalah Israel dan bukan Hamas. Hamas hanya melakukan serangan balasan demi membela dirinya dan rakyat Palestina yang dibantai oleh Israel, begitu pembelaan Hamas.

Rupanya ini tidak bisa diterima oleh Mahmud Abbas. Maka dimulai lagi konflik babak kedua Hamas-Fatah yang memakan korban lebih banyak dari konflik pertama. Konflik ini dimulai dengan tekanan hebat Fatah yang diarahkan kepada Menteri Dalam Negeri yang kemudian berakhir dengan pengunduran dirinya. Ismail Haniyeh untuk sementara waktu merangkap jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri.

Fatah memulai konflik ini dengan menyerang gedung-gedung milik Hamas, bahkan tempat tinggal Ismail Haniyeh tidak luput dari sasaran. Aksi-aksi Fatah ini berusaha menutup-nutupi siapa sebenarnya musuh rakyat Palestina. Ditambah lagi orang-orang seperti Mahmud Hilali salah seorang anggota Fatah yang punya hubungan dekat dengan Israel berusaha memperluas kawasan konflik. Sebelumnya, ia pernah membuat kamp perlawanan menentang Yasir Arafat.

Hamas tidak bisa berdiam diri melihat apa yang dilakukan oleh Fatah dan anggota-anggotanya. Para pelaku kerusuhan ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara. Pemerintah yang dipimpin oleh Hamas hampir berhasil menangkap semua anggota Fatah yang bersenjata. Mahmud Abbas yang sejak semula menanti reaksi Hamas yang seperti ini dan sekaligus melanggar perundingan Mekkah, ia membubarkan Kabinet Persatuan yang dipimpin oleh Ismail Haniyeh. Ia kemudian mengangkat Sallam Fayyad untuk membentuk pemerintahan darurat tanpa perlu dukungan parlemen yang dikuasai 75 persen kursi yang ada.

Siapa Salim Fayyad?

Israel menganggap Salim Fayyad sebagai Perdana Menteri yang paling tepat. Fayyad sejak intifadhah pertama dari sekitar tahun 1987 hingga tahun 1995 bekerja di Bank Dunia. Dari Tahun 1995 sampai tahun 2001 ia menjadi wakil PLO di IMF. Dari tahun 2002 hingga 2005 ia menjadi Menteri Keuangan PLO. Setelah kemenangan Hamas, ia tidak dipakai dan diangkat kembali setelah terbentuknya Kabinet Persatuan.

Mahmud Abbas dengan mengangkat Fayyad dapat meraih beberapa tujuan yang diinginkannya. Dari satu sisi, ia akan membawa rakyat Palestina untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan Israel. Dan dari sisi lain, ia mengharapkan Uni Eropa, Bank Dunia dan IMF dapat bekerja sama dengan pemerintah Palestina. Di samping itu, ia berhasil mengamankan kecemasan negara-negara Arab yang selama ini menginginkan perdamaian dengan Israel. Itulah mengapa ketika Mahmud Abbas membubarkan Kabinet Persatuan dan mengangkat Salim Fayyad, Persatuan Negara-negara Arab langsung mengadakan pertemuan darurat untuk membicarakan masalah ini dan relatif mereka semua menerima keputusan Mahmud Abbas.

Beberapa hari lalu, menteri-menteri luar negeri Arab mengeluarkan pernyataan agar Hamas menghormati Mahmud Abbas sebagai presiden dan pemimpin tertinggi di Palestina. Mereka memakai kata pemimpin tertinggi Palestina ditujukan kepada Mahmud Abbas, karena sepeninggal Yasir Arafat, tidak ada pribadi yang dapat mengisi kekosongan kharismatik Yasir Arafat, tidak juga Mahmud Abbas. Bahkan, mayoritas rakyat Palestina tidak mengakuinya.

Uni Eropa, Amerika bahkan Israel tanpa menunggu lebih lama langsung mendukung keputusan Mahmud Abbas. Amerika bahkan telah mengucurkan dana untuk Kabinet yang dibentuk oleh Salim Fayyad. Tidak kurang PBB memberikan dukungan secara penuh kepada keputusan Mahmud Abbas.

Dalam menyikapi keputusan Mahmud Abbas ini, negara-negara seperti Rusia, Afrika Selatan, Arab Saudi dan Sekjen Persatuan Negara-negara Arab mengambil sikap yang agak berbeda. Rusia mengembalikan masalah pada perundingan Mekkah, Afrika Selatan dengan bahasa yang agak mirip meminta kelompok-kelompok yang bertikai kembali pada Kabinet Persatuan, sementara Saud al-Faishal menunjukkan sikap tidak setujunya terhadap sikap yang diambil oleh Mahmud Abbas. Ia masih mendukung pemerintah yang dibentuk setelah perundingan Mekkah. Amr Musa sendiri mengecam pertikaian yang terjadi dan mengajak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Kecemasan Israel dan Amerika

Sekalipun rencana pembubaran Kabinet Persatuan yang diumumkan oleh Mahmud Abbas oleh New York Times hasil dari usulan dan dorongan Bush, Menteri Pertahanan Amerika mengatakan bahwa ikut campur Amerika dalam konflik ini akan merusak apa yang telah dicapai. Pencitraan yang dilakukan oleh pertemuan negara-negara Arab, Amerika, Israel dan Uni Eropa menguntungkan Fatah dan melemahkan posisi Hamas. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Jalur Gaza adalah satu-satunya daerah yang bebas dari pendudukan Israel dan saat ini dikuasai oleh Hamas dan pemerintah yang lahir dari kemenangan mereka di parlemen. Sementara itu, Mahmud Abbas dan pemerintah yang ditunjuknya, Salim Fayyad berdiam di kawasan yang diduduki oleh Israel, Tepi Sungai Yordan.

Bila kembali mengamati tujuan Hamas ketika memutuskan untuk mengikuti pemilihan umum adalah mendapatkan sejengkal tanah untuk menjadi basis perjuangan mereka melawan Israel dan bukan berkuasa dan mendirikan pemerintahan, maka mereka telah mencapai tujuan itu dan menang. Memiliki negara dan berkuasa bersanding dengan Israel tidak pernah ada dalam kamus Hamas bahkan secara politis mereka tidak percaya itu. Dan dalam masalah ini Mahmud Abbas dan Fatah bukan rivalnya. Sejak awal ketika Hamas memenangkan pemilu dan menguasai jalur Gaza, Mahmud Abbas dan Fatah telah menjadi pecundang.

Dengan perhitungan ini, sekalipun Amerika dan Israel berusaha keras untuk mendukung Fatah dan Mahmud Abbas lewat publikasi media besar-besaran sebagai pengganti Hamas, namun kecemasan itu tetap ada karena Hamas masih menguasai Jalur Gaza. Koran Yedioth Ahronoth menukil ucapan Perdana Menteri Israel Olmert yang mengatakan bahwa kemenangan Hamas atas Fatah mengingatkannya akan kekalahan pasukan Israel setelah keluar dari Lebanon Selatan.

Salah seorang senator garis keras Amerika dengan mengejek aksi yang dilakukan oleh Mahmud Abbas mengatakan, “Mahmud Abbas mengumumkan pembentukan pemerintahannya ketika Hamas telah menguasai Jalur Gaza.

Sebagian orang masih memberikan harapan dengan kosongnya Jalur Gaza dari anggota Fatah dengan mendirikan pemerintah di Tepi Sungai Yordan, akan memberikan kesempatan kepada Israel untuk yang kedua kalinya menduduki Jalur Gaza. Atau Jalur Gaza akan diserang habis-habisan oleh militer Israel. Dalam hal ini, analisa ini terlalu menganggap remeh kekuatan Hamas. Selama ini Tentara Israel selalu mengingat Jalur Gaza sebagai neraka bagi anggotanya dan mereka tidak akan kembali ke Jalur Gaza. Serangan udara yang diarahkan ke Gaza bukanlah hal baru bagi Hamas sehingga akan menghasilkan sebuah perubahan. Israel tahu benar bahwa serangan udara mereka memberikan kesempatan luas kepada Hamas untuk menembakkan rudal-rudal mereka ke pemukiman Yahudi.

Sebagian lain menganggap Gaza yang berbatasan dengan Mesir dengan kebijakan Hosni Mubarak di satu sisi dan di sisi lain berdampingan dengan Tepi Barat Sungai Yordan yang didukung oleh Mahmud Abbas akan menjadikan Gaza sebagai kekalahan dan kuburan Hamas. Harus dikatakan bahwa Mesir dan Yordania sejak lama punya kebijakan yang seperti ini dan sampai sekarang mereka belum mampu menghentikan Hamas atau sekurang-kurangnya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Fatah.

Penutup

Taktik yang selama ini dipakai oleh Hamas dalam menghadapi Israel adalah strategi yang selama ini diterapkan oleh Hizbullah. Dan itu tentunya setelah mereka sampai pada kesimpulan bahwa untuk meraih kemenangan perundingan bukan jalan yang terbaik. Apa lagi Israel adalah pihak pertama yang lebih dulu melanggar perjanjian.

Untuk itu, Hamas mengikuti pemilihan umum dan setelah menang mereka menguasai daerah Gaza sebagai basis perjuangan mereka. Ikut sertanya Hamas dalam pemilu tidak dengan harapan menjadi penguasa, tapi seperti yang dilakukan oleh Hizbullah, mereka berharap mendapat pengakuan dan sejengkal tanah untuk dapat berjuang melawan Israel dan membebaskan rakyat Palestina dari cengkeraman kejahatan Israel.

Taktik perangnya pun mengikuti model Hizbullah dalam membalas serangan dan aksi teror yang dilakukan oleh militer Israel. Brigade al-Qassam saya militer Hamas telah mampu memproduksi sendiri rudal-rudal yang bakal ditembakkan ke pemukiman Yahudi sebagai upaya bela diri atas serangan dan aksi teror Israel.

Ketika Hizbullah tak terkalahkan karena didukung penuh oleh rakyat Lebanon, saat ini Hamas mendapat dukungan dari hampir seluruh rakyat Palestina. Mereka menganggap hanya Hamas yang benar-benar memperhatikan keadaan mereka. Dan perlindungan maksimal Hamas selalu ditunjukkannya dengan membalas setiap serangan yang dilakukan oleh militer Israel.

Qom, 20 Juni 2007

Hamas Ungkap Kerjasama Fatah dengan Mossad dan CIA

Hamas Ungkap Kerjasama Fatah dengan Mossad dan CIA


http://indonesian.irib.ir/khabar/b13.htm

Gerakan Perjuangan Palestina Hamas mengungkap kerjasama kelompok Fatah dengan Badan Inteljen Rezim Zionis (Mossad) dan AS ( CIA). Koran Al–Mesrioun, edisi hari ini terbitan Kairo menulis, "Berdasarkan dokumen yang disampaikan Hamas kepada para pejabat Mesir, Mohammad Dahlan dan Rashid Abu Shabak, para petinggi kelompok Fatah, bekerjasama dengan Mossad dan CIA untuk melakukan berbagai aktifitas anti Mesir, dan menggelapkan narkoba serta menyebarkan ratusan ribu USD palsu di negara ini.

Sumber itu, yang mengutip dari para pejabat terkait, menulis, Dahlan yang menjabat sebagai Penasehat Keamanan Nasional Otorita Palestina dan Abu Shabak, mantan Ketua Badan Keamanan Dalam Negeri Palestina, terbukti menjalin hubungan intensif dengan Mossad. Disebutkan pula, keduanya berkoordinasi dengan Mossad untuk meneror para petinggi Hamas seperti Abdul Aziz Rantisi dan Sheikh Ahmad Yasin. Hamas menemukan dukomen ini berikut ribuan data rahasia lainnya di berbagai markas Fatah di Gaza.

Monday, June 18, 2007

Sayyid Hasan Nasrullah: Senjata hakiki adalah akidah

Sayyid Hasan Nasrullah: Senjata hakiki adalah akidah

http://infosyiah.wordpress.com/2007/02/25

Sayyid Hasan Nasrullah: Senjata hakiki adalah akidah

Hizbullah Lebanon memperingati hari syahadah Abbas Musawi, sekjen Hizbullah yang dibom oleh Israel. Ia syahid bersama keluarganya dalam mobil yang membawa mereka. Dalam peringatan itu, tampil Sayyid Hasan Nasrullah sebagai pembicara. Sayyid Hasan Nasrullah berkata: “Ironis sekali, perang terakhir antara rezim Israel dengan Lebanon adalah perang pertama terhadap negara Arab yang dibantu oleh sebagian negara Arab”.

Ia menambahkan: “Faktor paling penting kekuatan Hizbullah terletak pada kerahasiaannya. Israel tidak memiliki kemampuan untuk mengetahuinya. Namun, urusannya tidak hanya senjata, karena yang lebih penting lagi adalah keteguhan dalam berjuang menghadapi musuh”.

Menurut Sayyid Hasan Nasrullah: “senjata hakiki adalah akidah. Keyakinan itulah yang membuat seseorang siap mengorbankan jiwa dan raganya”.

Tentara Israel-Hamas Baku Tembak di Selatan Ghaza

Tentara Israel-Hamas Baku Tembak di Selatan Ghaza

Sabtu, 9 Jun 07 15:50 WIB

http://www.eramuslim.com

Pasukan Israel kembali masuk ke selatan jalur Ghaza dan terlibat baku tembak dengan sayap militer Hamas di wilayah itu. Juru bicara militer Israel menyatakan, dalam serangan tersebut mereka mengerahkan tank-tank dan unit-unit infanterinya menuju kota Rafah.

"Tentara kami ditembaki. Mereka membalasnya dan berhasil menembak satu orang bersenjata, " ujar jubir militer Israel. Hamas membenarkan adanya pertempuran itu, namun tidak menyebutkan ada korban yang jatuh.

Sementara itu, di kota Hebron, Tepi Barat, tentara Israel kembali menembak seorang remaja Palestina berumur 17 tahun hingga tewas. Warga di kota itu mengungkapkan, tentara Israel menembak dua orang anak muda, padahal kedua pemuda tersebut hanya warga sipil biasa dan bukan anggota faksi pejuang Palestina manapun.

Sedangkan keterangan versi Israel menyebutkan bahwa tentara Israel menembak dua pemuda itu karena keberadaan orang bersenjata di wilayah tersebut merupakan acaman yang harus segera diantisipasi.

Di Jalur Ghaza, sejumlah pekerja medis di Rumah Sakit Ghaza sempat mogok kerja selama beberapa jam pada Sabtu (9/6), sebagai bentuk protes atas penculikan seorang dokter yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Palestina.

Fayez al-Barrawi, seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Beit Hanoun, utara Ghaza yang juga pendukung Hamas, ditutup matanya, diborgol kemudian dibuang di jalan. Hamas menuding kelompok pejuang Fatah yang telah melakukan tindakan keji itu. Peristiwa penculikan terhadap seorang dokter, baru kali ini terjadi meski di tengah pertemupran, paramedis dan ambulan sudah biasa menjadi sasaran tembakan. (ln/aljz)

Hamas: Kami Tak Berniat Membuat Pemerintahan di Ghaza

Hamas: Kami Tak Berniat Membuat Pemerintahan di Ghaza

Jumat, 15 Jun 07 09:44 WIB

http://www.eramuslim.com

Hamas tidak memiliki obsesi untuk menguasai Ghaza. Itu pernyataan yang ditandaskan oleh salah satu organisasi terbesar di Palestina, yang saat ini menguasai kota Ghaza termasuk infrastruktur kepresidenan yang sebelumnya diduduki Fatah.

Hamas menegaskan bahwa penguasaannya di sejumlah pos keamanan Ghaza hanya memiliki dimensi keamanan saja, tidak ada kaitannya dengan merebut dan mencapai kekuasaan di Ghaza.

Hamas mengeluarkan pernyataan ini, menyusul berkembangnya anggapan bahwa Hamas akan memegang kendali pemerintahan di Ghaza, sementara Fatah di Tepi Barat. Sejumlah pengamat memandang Hamas akan membentuk negara kecil yang mereka kendalikan di Ghaza.

Seperti diberitakan, Batalyon Izzuddin Al-Qassam sayap militer Hamas hari Kamis (14/6), memang sudah menguasai keamanan secara dominan di Ghaza. Termasuk kantor pusat komando pengamanan presiden di kota tersebut, yang sebelumnya menjadi markas para pendukung Muhammad Dahlan, pimpinan Fatah yang ingin mendongkel Hamas dari pemerintahan Palestina. Hamas juga menduduki kantor pusat intelejen setelah pertikaian selama dua hari berlangsung sengit dan menjatuhkan korban sebanyak 35 orang.

Menurut Sami Abu Zuhri, jubir resmi Hamas, “Penguasaan Al-Qassam di Ghaza tidak memiliki orientasi politik kekuasaan, dan tidak dimaksudkan untuk menjalani pemerintahan di Ghaza.”

Ia menambahkan, “Hamas tidak ingin memaksakan realitas politik yang baru. Penguasaan kami di Ghaza adalah langkah yang hanya berdimensi keamanan belaka di mana sebelumnya telah terjadi banyak kejahatan yang dilakukan sekelompok orang dari sayap keamanan dan pemerintah tidak berhasil mengendalikannya.”

Selain itu, Sami juga menegaskan bahwa Hamas takkan mengizinkan kondisi kemarin berulang kembali. (na-str/iol)

Hamas: Mereka yang Dibantu AS dan Israel Dianggap Musuh

Hamas: Mereka yang Dibantu AS dan Israel Dianggap Musuh

http://www.eramuslim.com

Selasa, 12 Jun 07 17:22 WIB

Situs-situs milik Hamas memberitakan pernyataan anggota parlemen Hamas Yunus Al-Asthal, yang menyarankan agar tak membeda-bedakan antara 'para pembunuh' dari Fatah dengan Yahudi.

Sementara Harian Libanon Al-Akhbaar, Selasa (12/6), mengutip pernyataan Al-Asthal yang menilai Mahmud Abbas dan orang-orangnya sebagai kelompok yang telah kehilangan legalitas dari rakyat. Pasalnya, tambah A-Asthal, kelompok itu tak mau juga mengakui hasil pemilu legislatif paling demokratis yang terkahir kali dijalani Palestina.

"Karena itu, mereka tak mewakili siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri. Jika mereka tak segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, maka bagi mereka balasan yang sulit di dunia dan akhirat, " ancam Al-Asthal.

Lebih lanjut dikatakan Al-Asthal bahwa, mereka yang menerima bantuan dana dari penjajah Israel dan AS, maka mereka tak ada bedanya dengan Israel. "Mereka harus diperangi tanpa dibeda-bedakan, sampai kami bisa yakin menang atas musuh, atau sampai kelompok pembangkang itu kembali (sadar), " tutur dia.

Sementara kantor perdana menteri Palestina memberikan keterangan bahwa sebuah granat RPG, Selasa (12/6) pagi, diluncurkan ke arah rumah Haniyyah di Mukhayyam Shati. Akibatnya, ujar kantor itu, kerugian fisik tak bisa dihindarkan, namun tak menelan korban jiwa.

"Kerusakan menimpa rumah Haniyyah tak lama setelah granat itu mengarah ke rumahnya. Haniyyah saat itu sedang tak ada di rumah, " ujar sumber itu.(ilyas/alrb)

Usaha Mengobarkan Perang Saudara di Lebanon

Usaha Mengobarkan Perang Saudara di Lebanon

http://indonesian.irib.ir/khabar/lintasdua.htm

Hizbullah Lebanon menuduh pemerintahan Siniora mengambil langkah yang akan semakin meningkatkan krisis politik dengan rencananya menggelar pemilu jeda Parlemen. Ahad 17 Juni, Hasan Fadlullah, Anggota Fraksi Hizbullah di Parlemen Lebanon, mengatakan bahwa sayap penguasa bukannya mencari jalan penyelesaian krisis Lebanon, tapi justru mengarahkan negara ini menuju perang saudara.

Baru-baru ini, pemerintahan Siniora mengumumkan akan melaksanakan pemilu jeda pada tanggal 5 Agustus mendatang, untuk memilih pengganti dua anggota Parlemen yang diteror, yaitu Piere Gemayel, dan Walid Eido. Sementara itu, berdasarkan UUD Lebanon, pelaksanaan pemilu jeda harus mendapatkan restu dari Presiden. Padahal Emil Lahud, Presiden Lebanon, telah menyatakan menentang pelaksanaan pemilu ini. Akan tetapi partai penguasa Lebanon menyatakan akan tetap melaksanakannya meski tanpa restu Presiden.

Lagi-lagi menurut konstitusi (yaitu konstitusi Lebanon), sebenarnya pemerintahan Siniora yang kebarat-baratan, sejak tahun lalu, telah kehilangan legalitas hukumnya dengan mundurnya 6 menteri Syiah dan Kristen dari kabinet. Akan tetapi ia dan konco-konconya masih tetap bertahan di posisinya, berkat dukungan politik dan militer gedung putih. Rakyat, Presiden, Ketua Parlemen, dan 47 persen anggota Parlemen Lebanon, menutut perubahan pemerintahan Siniora dan pembentukan pemerintahan Persatuan Nasional. Akan tetapi kelompok penguasa, yang dikenal dengan nama kelompok 14 Maret, sebagai pendukung pemerintahan Siniora di Parlemen, tanpa memperdulikan tuntutan rakyat dan sebagian tokoh politik negara ini, bersikeras untuk mempertahankan pemerintahan yang ada saat ini, dengan harga berapa pun. Inilah inti krisis interen Lebanon, dimana Hizbullah telah memperingatkan bahaya terpecahnya negara ini, sebagai dampak krisis ini. Jelas sekali, bahwa setelah kekalahan militer rezim zionis dalam perang 33 hari di Lebanon, kini kawasan Timur Tengah menghadapi berbagai konspirasi AS dan rezim zionis.


Porak-porandanya stabilitas Lebanon dan meningkatnya kekacauan di Palestina pendudukan, hanya sebagian dari konspirasi yang mencuat di Timur Tengah. Sasaran asli segala macam konspirasi ini tak lain ialah gerakan-gerakan perlawanan di Lebanon dan Palestina yang telah membuat pasukan militer rezim zionis kalang kabut, dan akhirnya bertekuk lutut, menghadapi perjuangan gagah berani mereka. AS dan rezim zionis memberlakukan politik yang sama di Timur Tengah. Di Palestina, mereka membubarkan pemerintahan pilihan rakyat, dan mendukung pemerintahan ilegal yang mereka bentuk dengan semena-mena. Di Lebanon pun, mereka mempertahankan pemerintahan ilegal Siniora dan melancarkan berbagai konspirasi jahat. Semua itu membuktikan dengan jelas, bahwa Barat dan rezim zionis, sama sekali bukan pembela demokrasi dan suara rakyat, bahkan sebaliknya, mereka tak segan-segan menodai demokrasi, hak dan suara rakyat, demi mencapai kepentingan-kepentingan imperialistis mereka.

Tuesday, June 12, 2007

The Heroic Battle of Aita al-Shaab

source from : www.wa3ad.org

Simon Assaf and photographer Guy Smallman were among the first to reach the border town of Aita al-Shaab after the "Israelis" withdrew. They spoke to fighters and locals about their month long battle to defend the town.

The road to Aita al-Shaab is littered with victims of the brutal power of "Israeli" military might. For mile after mile, houses are in ruins and the sides of the roads are littered with wrecked cars, many hit by rockets or strafed by helicopter gunships.
We joined a convoy from the Samidoun (steadfast) solidarity network as they were attempting to get supplies to the desperate border villages.
The road south was deserted as our convoy negotiated burnt out petrol stations, collapsed houses, roads punctured by craters and strewn with twisted metal and glass. We saw the effects of bombs powerful enough to suck the shutters off shop fronts and shatter windows for miles around.
Aita al-Shaab had endured weeks of savage fighting. "Israel" claimed that it had killed dozens of fighters in the town and that it had broken the back of Hizbullah in the area.
But as we entered the village we were met by the resistance patrols with two-way radios. They were firmly in control. On every street corner we saw men, some of them wounded, keeping a close eye on the town. Locals offered us bottles of mineral water left behind by retreating "Israeli" troops, while others offered us apples and cups of coffee.
Aita al-Shaab is a small farming town and home to some 10,000 people. It is spread over three hills and surrounded by tobacco fields. One mile to the south the land rises to form a steep ridge - this is the border with "Israel".
The "Israelis" claim it was a Hizbullah unit from the village that captured two of its soldiers at the outset of this war.
Relentless
We spoke to the local mayor. Over 80 percent of the town had been destroyed in a relentless barrage of rockets, shells and air strikes, he said. The water pumping system was knocked out, the school, mosques and hundreds of homes were punctured by shells. Electric cables and telephone lines were cut, while the surrounding fields were littered with unexploded mortar rounds and artillery shells. Houses had collapsed everywhere, with family photos, crockery and toys blown into the street.
A grey dust covered everything. Shops were burnt out, cars lay on their side as if flipped by a giant hand. Some families returned to find their homes littered with unexploded bombs, and turned back to find refuge in the southern city of Tyre.
The southern villages of Lebanon were at the heart of the resistance to the "Israeli" army, and pacifying Aita al-Shaab was a top military priority for the "Israelis". Hundreds of "Israeli" troops poured over the border and seized a school for the blind overlooking the town, while helicopters dropped other troops behind the town.
The majority of civilians fled to a nearby Christian town, where they were given refuge. Others hid in cellars or in their homes.
Over the next month the village fought off three major assaults by the "Israeli" army. The battle for Aita al-Shaab would reflect the pattern of resistance across the south.
From the outset of the war, Hizbullah's ranks were swelled by a mass of former fighters. For some this was their third war - they had first picked up a weapon in the 1960s. The "Israelis" found themselves fighting the veterans of the 1982 invasion, and the 1993 and 1996 assaults. The vast majority of the fighters were locals, backed by highly trained and well armed guerrillas drawn from across the country.
Across the south the "Israelis" discovered that instead of facing a few thousand Hizbullah fighters, they were confronted by tens of thousands of armed men.
This was a popular resistance organized in cooperation with Hizbullah or under its leadership. Locals defended villages, freeing up Hizbullah fighters to take the offensive against the invading "Israeli" troops.
As other Lebanese organizations declared for the resistance, Hizbullah was able to draw on resources well beyond their ranks. In Aita al-Shaab this combination would survive a month long siege by the world's fifth most powerful army.
We spoke to two local men, Ahmed and Ali. They would talk only on the condition that we did not ask their real names or take their pictures.
They described the battle for Aita al-Shaab as a "desperate" struggle. "On the first day the "Israelis" seized the school," said Ali, pointing to a large white building overlooking the town.
"Others were dropped behind us. Our fighters fired anti-tank weapons at them, while other units pulled back into the village. We believe many "Israeli" soldiers died in that first battle near the school - we could hear the cries of their wounded."
The "Israelis" admitted that several soldiers, including an officer, were killed in the first days of the fighting. Dozens of others were wounded.
Aita al-Shaab would prove to be the most costly battle for the "Israelis". Resistance fighters in surrounding hills pinned the "Israelis" down using modern wire-guided anti-tank weapons, before slipping back into bunkers and trenches.
"In the second attack, the "Israelis" advanced across the tobacco fields and seized the bottom of the village," Ali continued. "They wanted to fight their way up the main street into the neighbourhoods on the hill - if they succeeded they would have split our town in two."
Here locals held them off, firing out of windows, shop fronts and doorways. The buildings along the central street are punctured by thousands of bullet holes, rockets and heavy machine gun fire.
"We would hold a house until the ‘Israelis' called in an air strike - we realised that they always pulled their troops back first, so we knew when it was time to set up new positions. Often their soldiers would seize a street, only for our fighters to appear behind them."
"It was in this battle that we had our first martyr," said Ali, pointing to a house blackened by fire.
Assault
The "Israelis" advanced half way up the main road before abandoning their assault. Volleys of rockets and shells then lashed the houses, crushing walls, slicing off the tops of trees and gouging holes in the road. The fighters would disappear into cellars and bunkers, only to re-emerge later.
Then the "Israelis" launched a full-scale assault, targeting the high ground behind the centre of the village.
"During the final assault, the Hizbullah fighters took up positions around the community centre while we attempted to tie down the "Israelis" around. We ducked from house to house, firing then changing position," he said.
"For us it was a last stand - we feared they would trap us in a few houses and then call in bombs on us. We were in a desperate position, but it was Hizbullah who faced the toughest battle. "Israeli" paratroopers supported by tanks and armoured bulldozers launched a full frontal attack on them."
"The ‘Israelis' would advance as the bulldozers crushed houses in front of them. They reached within 20 metres of the community centre," said Ali. But a rocket team was able to destroy some of the bulldozers.
The "Israelis" called up reinforcements, but as their tanks made the dash across open fields they were ambushed by other fighters. One tank was destroyed and several others knocked out. "After they saw their tanks destroyed they withdrew," Ali said. "Thanks to god, we had won."
I asked if there was any truth to the "Israeli" claim that over 50 resistance fighters had been killed in the area. He took me to a wake where we met a group of fighters, some of them wounded, drinking coffee. They all agreed that only eight local fighters had died, and pointed to a small trench that was being dug for graves. There was room for 14 graves - eight for fighters and six for civilians.
"The "Israelis" lost the battle because we all became the resistance," said Ahmed. "The left, the Arab nationalists and the locals all worked under the leadership of Hizbullah for the defense of our town."
With the town in ruins and this year's crop lost, Aita al-Shaab faces a desperate struggle to rebuild before the winter. On the ridge a plume of dust was thrown up by an "Israeli" patrol, while observation towers continue to peer into the town. On the way out, we ran into UN units heading towards the town, while the Lebanese army was beginning to set up checkpoints.
The battle of Aita al-Shaab was a victory for the resistance. But another difficult struggle is about to begin.

Hezbollah Merajut Legenda

Hezbollah Merajut Legenda
Catatan Media dan Para Tokoh Dunia

Bisa menyerang, tapi tak bisa diserang. Bisa membunuh tapi tak bisa dibunuh. Inilah mitos yang selama ini dibangun dan dikembangkan kaum Zionis dengan terus memamerkan kecanggihan mesin-mesin perangnya. Sebagai pendukung, mitra, dan bahkan kekuatan yang membidani lahirnya Zionisme di jantung Timteng, dunia Barat, utamanya AS dan Inggris, juga tak pernah berhenti menjajakan mitos itu.

Naifnya, seperti diharapkan Zionis dan Barat, sebagian besar rezim Arab mengkliping mitos itu dalam primbon keyakinan mereka tentang peta kekuatan militer di Timteng. Mereka lebih percaya kepada dongeng itu karena pernah dikalahkan Israel dalam peperangan yang berlangsung hanya dalam hitung hari. Mereka tak pernah menggugat dongeng itu dengan keberhasilan para pejuang Hezbollah mengusir Israel dari sebagian besar wilayah Lebanon selatan pada tahun 2000. Mereka lebih suka menyebut peristiwa besar di penghujung milenium kedua itu sebagai “kejumawahan” Israel untuk “mengalah” di Lebanon.

Tak seperti umumnya bangsa Arab, para pejuang Muslim Lebanon selatan yang bernaung di bawah bendera Hezbollah tak pernah meyakini dongeng kedigdayaan kaum Zionis. “Rezim Zionis lebih lemah dari sarang laba-laba,” pekik Sekjen Hezbollah Lebanon, Sayid Hasan Nasrollah.

Tak hanya sekedar kata-kata, Hezbollah berani membuktikan pekikan itu. Delapan serdadu Zionis tewas dan dua lainnya tertawan dalam operasi pembebasan Hezbollah atas Shab’aa, sebuah kawasan subur di Lebanon selatan yang masih diduduki Zionis. Para penguasa di Tel Aviv kalap dan lantas menginstruksikan serangan besar-besaran ke seluruh wilayah Lebanon pada 12 Juli 2006. Berbagai kawasan Lebanon, terutama di selatan, diamuk jet-jet tempur Zionis.

Hampir semua orang memperkirakan Hezbollah akan tergulung operasi militer Zionis hanya dalam hitungan hari, apalagi dianggap Hezbollah cuma sekedar organisasi militan lokal, sedangkan Israel adalah kekuatan raksasa yang kebetulan juga sedang disetting AS untuk menekuk Hezbollah dan mengimplemetasi agenda The New Middle East yang dipromosikan Washington .

Tapi keajaiban terjadi dan menggulung underestimate banyak orang terhadap Hezbollah tersebut. Semua orang terperangah; bukannya lumpuh dan kocar-kacir, Hezbollah malah berhasil menuai lebih dari 100 nyawa serdadu Zionis dalam perang terbuka selama satu bulan, dan Hezbollah sendiri hanya kehilangan jiwa anggotanya sekitar 60 orang. Setiap hari lebih dari 100 roket Hezbollah mendarat di berbagai kota dan daerah utara Israel. Puluhan tank supermodern Merkava, mesin-mesin perang, dan kapal tempur milik Israel yang selama ditakuti bangsa-bangsa Arab ternyata berkeping-keping dilumat roket Hezbollah. Sedangkan pasukan Israel hanya dapat mengumbar kekalapannya kepada warga sipil dan tidak dapat berbuat banyak di depan gerilyawan Hezbollah.

Rezim Israel kehilangan muka di depan dunia, terutama di depan bangsa-bangsa Arab dan rakyat Zionis sendiri. Nama Hezbollah melambung di Dunia Arab dan Islam. Kibaran kencang bendera Hezbollah tak hanya memupuskan mitos kedigdayaan Israel, tapi semakin juga menguak kekerdilan mentalitas rezim-rezim Arab di depan mitos Zionis. Acara Suara Masyarakat (Sout an-Nas) setiap malam di TV al-Jazeera menjadi ajang untuk meluapkan otokritik dan kecaman para tokoh dan masyarakat Arab terhadap para penguasa mereka.

Timteng Baru pada akhirnya memang terjadi, tapi bukan seperti yang dirancang Washington dan Tel Aviv. Sebaliknya, Timteng kini tampil dengan wajah baru yang mulai bebas dari mitos kesaktian Zionis dan kemaha-perkasaan AS. Mitos ini tergusur oleh sebuah legenda nyata, yaitu legenda tentang keperkasaan kelompok pejuang yang tidak hanya mengandalkan pada kekuatan raga dan fisik, tapi juga kekuatan mental dan batin. Legenda itu sekarang dirajut secara sempurna oleh Hezbollah bersama pemimpinnya, Sayid Hasan Nasrollah.

Berikut ini beberapa catatan media dan komentar para tokoh tentang legenda Hezbollah Lebanon:

Kejutkan Semua Orang

Harian Times mengemukakan keterkejutan banyak orang atas ketangguhan Hezbollah. Koran terbitan Inggris ini pada edisi Kamis 11 Agustus 2006 menyatakan, semua orang tadinya mengira Hezbollah akan kalah hanya dalam hitungan hari, tapi bukannya kalah, Hezbollah ternyata justru mampu menghadang gerak maju pasukan Israel dan membunuh lebih dari 100 tentara Zionis. Selain itu, roket Hezbollah tetap gencar menghajar berbagai kawasan utara Israel.

Times menambahkan bahwa bangsa-bangsa Arab dan Muslim menganggap Hezbollah menang karena tetap mampu bertahan melawan angkatan bersenjata yang paling tangguh di Timteng. Menurut Times, teguhnya perlawanan Hezbollah di depan militer Israel yang didukung habis-habisan oleh AS telah mengejutkan semua orang. Sedemikian hebatnya Hezbollah sampai-sampai para petinggi Zionis bertikai mengenai strategi dalam menghadapi Hezbollah.

Legendaris Dunia Arab

Harian Financial Times edisi Rabu 9 Agustus 2006 menyatakan serangan darat dan udara Israel ke Lebanon tidak sanggup melemahkan Hezbollah. Koran terbitan Inggris ini menuliskan, “Jet-jet tempur Israel telah menghancurkan desa-desa Lebanon Selatan, jembatan-jembatan, pabrik-pabrik, jalan-jalan, bandara internasional, dan tempat-tempat penyimpahan bahan bakar nasional Lebanon. Israel juga melumpuhkan perekonomian negara ini. Namun demikian, para pejuang Hezbollah hingga kini tetap gencar melawan serangan tersebut.”

Menurut Financial Times, kecil sekali kemungkinan Hezbollah dapat dilumpuhkan Israel. Sebaliknya, perlawanan sengit Hezbollah sejak satu bulan lalu telah menjadikan gerakan ini sebagai kekuatan yang legendaris di tengah bangsa-bangsa Arab. Koran ini juga menilai Hezbollah bukan hanya telah menggoyang posisi sejumlah rezim Arab yang menjalin hubungan dengan Israel, tetapi juga menguatkan mental musuh-musuh AS di Timteng.

Kalah Perang

Dinas Rahasia Israel, Mossad, mengakui Israel sudah dipandang sebagai pihak yang kalah dalam perang dengan Hezbollah. Seperti diberitakan News Israel, Direktur Mossad Meir Dagan, seusai rapat darurat enam jam kabinet keamanan Israel Rabu 9 Agustus 2006 mengatakan, “Dunia Arab memandang Israel sebagai pihak yang kalah dalam perang melawan Hezbollah Lebanon.”

Dagan menambahkan, “Pertempuran Israel dengan Hezbollah sangat menggembirakan orang-orang Palestina dan mengguncang AS dan sekutunya.” Menurutnya, kabinet Ehud Olmert harus menebus kekalahan ini dengan mengesahkan operasi lebih masif terhadap Hezbollah, walaupun Israel akan kehilangan ratusan lagi pasukannya.

Lebih Parah dari "Perang Kemerdekaan"

Koran terkemuka Israel Ha’aretz mengakui kerugian yang diderita Israel dalam perang kali ini jauh lebih parah daripada kerugiannya pada perang 1948. Seperti dimuat koran ar-Riyadh terbitan Arab Saudi, Ha-aretz menilai kerugian Israel sudah lebih dari dua kali lipat kerugiannya pada perang 1948.

Ha-aretz menyatakan, dalam perang-perang sebelumnya, Israel tidak pernah menanggung derita sedemikian besar. Bahkan dalam perang 1948 yang dianggap Israel sebagai perang kemerdekaan, korban tewas di pihak tentara Zionis hanya mencapai sekitar 2/3 tentara Zionis yang mati dalam perang Lebanon sekarang.

Tak Sekedar Bersumbar

Harian New York Times edisi Selasa 8 Agustus menuliskan, hal yang lebih menakutkan daripada roket Hezbollah ialah semakin merebaknya popularitas Sekjen Hezbollah di negara-negara Islam dan Arab. Harian AS ini menambahkan bahwa Sayid Nasrollah kini sudah menjadi simbol eksistensi dan martabat bangsa-bangsa Arab. Pada beberapa dekade lalu, tokoh-tokoh semisal Gamal Abdel Nasser dan Yasser Arafat selalu gagal membuktikan klaim kemenangannya atas Israel, tetapi kini muncul rohaniwan berusia 46 tahun bernama Hasan Nasrollah yang mampu membuktikan apa saja yang dikatakannya.

Tak Dapat Disepelekan

Berkibarnya nama Hasan Nasrollah juga diberitakan koran Handelsblatt terbitan Jerman Selasa 8 Agustus. Dalam reportasenya yang berjudul “Hezbollah Tak Dapat Disepelekan”, harian itu menuliskan, Sekjen Hezbollah Sayid Hasan Nasrollah telah menjadi sosok yang paling disukai di Dunia Arab dan Islam karena keberhasilannya dalam menghadapi Israel.

Handelsblatt menilai kekuatan Hezbollah terletak pada dukungan rakyat dan pemikiran umat Islam di Lebanon Selatan. Hezbollah memiliki basis politik yang besar di Lebanon. Tanpa partisipasi Hezbollah, kehidupan politik di Lebanon tidak pernah aktual.

Pasok Senjata

Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, mengatakan sudah seharusnya negara-negara Muslim mulai mempertimbangkan untuk memasok senjata bagi Hizbullah. Sebab, Israel hingga kini masih terus melakukan agresinya terhadap Lebanon. "'Pemikiran perlunya memasok senjata bagi Hizbullah memang telah dilontarkan oleh sejumlah anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI),'' papar Syed Hamid di Kuala Lumpur, Selasa 8 Agustus.

Syed Hamid menilai Israel seakan memiliki kekebalan hukum hingga melakukan langkah semau mereka sendiri. Israel, ujarnya, harus sadar bahwa kekerasan yang mereka lakukan akan menimbulkan kekerasan baru.

Dikatakannya, negara-negara OKI harus mencermati segala sesuatu yang terjadi, dan tak seharusnya negara-negara Muslim membiarkan Israel melakukan apa pun yang diinginkannya, termasuk melakukan agresi yang membuat banyak warga sipil menjadi korban.

Pulihkan Martabat

Seorang anggota parlemen Mesir, Hamdi Hasan mengatakan, Hezbollah Lebanon telah mengembalikan martabat dan jatidiri umat Islam. Dalam wawancaranya dengan IRIB Selasa 1 Agustus, Hamdi Hasan mengapresiasi perlawasanan Hezbollah dan ketegasan sikap Sayyid Hasan Nasrollah.

Ia juga mengimbau negara-negara di kawasan untuk memberikan dukungan spiritual dan finansial kepada Hezbollah Lebanon. Menyinggung aksi pembataian di desa Qana, selatan Lebanon, Hamdi Hasan mengatakan, merealisasikan ambisi mereka, AS dan Rezim Zionis Israel akan menggunakan segala macam represi terhadap negara-negara Arab dan Islam.

Wednesday, June 6, 2007

Mengapa Kaum Muslimin Sedunia Harus Membela Palestina?

Mengapa Kaum Muslimin Sedunia Harus Membela Palestina?


Hari Jumat tanggal 20 Oktober lalu, sebagaimana Jumat-Jumat terakhir lainnya di bulan Ramadhan selama 27 tahun terakhir, jutaan orang Iran turun ke jalan-jalan dan melakukan demonstrasi membela Palestina, yang diberi nama demonstrasi Yaumul Quds. Namun tahun ini, demostrasi itu lebih besar dan punya kesan lebih dalam dari tahun-tahun sebelumnya karena dilakukan tak lama setelah Hizbullah berhasil meruntuhkan mitos tak terkalahkan yang selama ini disematkan di dada Israel. Yel-yel marg bar Israel (kematian bagi Israel), marg bar Amrika (kematian bagi Amerika) dipekikkan di berbagai kota di Iran. Di Teheran, tampak sebuah spanduk raksasa menampilkan foto Sayid Hasan Nasrullah dan bertuliskan “Israel lebih rapuh dari rumah laba-laba” digotong beberapa orang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para peserta demo menunaikan sholat Jumat bersama-sama dan membentuk shaf panjang, yang di Teheran bisa mencapai puluhan kilometer.

Memperhatikan kehadiran jutaan orang Iran dalam demonstrasi itu, terlintas pertanyaan dalam hati saya, mengapa orang-orang Iran itu sedemikian bersemangat membela bangsa Palestina? Untuk apa? Bukankan Iran sendiri punya banyak masalah di dalam negeri yang harus diselesaikannya? Begitu pula, mengapa kita orang-orang Indonesia juga menyuarakan pembelaan terhadap Palestina? Mengapa harus ada penggalangan dana untuk Palestina? Mengapa perlu diselenggarakan konferensi-konferensi khusus untuk membela Palestina? Mengapa Presiden Indonesia harus jauh-jauh berkunjung ke Timur Tengah untuk ikut campur dalam penyelesaian masalah Palestina?

Tentu saja, hal ini bukan berarti saya tidak berperikemanusiaan dan tidak peduli pada pendertitaan bangsa Palestina. Namun, bukankah bangsa Indonesia sendiri menghadapi sangat banyak problema? Banjir, lumpur, gempa, kemiskinan, atau pengangguran adalah di antara sekian banyak beban yang harus ditanggung sebagian rakyat Indonesia. Bukankah yang seharusnya lebih diperhatikan oleh bangsa Indonesia adalah nasib saudara-saudara sebangsanya sendiri?

Jawaban dari pertanyaan itu kemudian saya temukan dalam isi pidato Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang disampaikannya 26 Oktober 2005 di Teheran. Pidato ini telah membuat dunia gempar karena media-media massa asing mengekspos salah satu kalimat di dalamnya, Israel must be wiped off the map (Israel harus dihapuskan dari peta dunia). Padahal, kalimat aslinya adalah, “Emam-e aziz-e man farmudan ke in rezim-e eshqalgar-e qods bayad az shafh-e ruz-e gar mahv shavad.” (Imam—Khomeini—tercinta kita berkata bahwa rezim penjajah Al Quds ini harus dihapuskan dari dunia).

Kalimat ‘Israel harus dihapuskan dari peta dunia’ sedemikian menggema ke seluruh dunia. Dunia Islam mendukung kalimat itu dan Ahmadinejad pun menjadi icon baru dalam perjuangan anti Israel. Sebaliknya, dunia Barat berusaha menampilkan citra keras Islam, yaitu bahwa orang-orang Islam ingin membasmi orang-orang Israel. Tentu saja, bila kita merujuk kepada teks asli pidato Ahmadinejad tersebut, adalah jelas bahwa yang dimaksud bukanlah membasmi atau memusnahkan orang-orang Yahudi penghuni Israel, melainkan menumbangkan rezim Zionis yang telah menjajah Al Quds selama lebih dari setengah abad terakhir. Bukankah menurut Piagam PBB setiap bangsa berhak untuk meraih kemerdekaannya? Tentu saja bangsa Palestina tidak terkecualikan dari hak ini, bukan?

Namun, dunia mencatat bahwa kalimat bersejarah yang diungkapkan oleh Imam Khomeini itu telah menjadi inspirasi bagi kaum muslimin Palestina untuk terus berjuang tanpa kenal kata menyerah. Hal ini antara lain diungkapkan Simon Peres, mantan Perdana Menteri Israel, “Pernyataan Pemimpin Iran bahwa Israel harus dilenyapkan dari sejarah, telah memberikan pukulan yang paling telak bagi keamanan dan kepentingan Israel dalam dua dekade terakhir. Sampai-sampai, senjata secanggih apapun tidak mampu menumpaskan gerakan intifada dan mencegah terjadinya operasi mati syahid.”

Kembali kepada teks pidato Ahmadinejad. Pidato itu disampaikan di depan sekitar 3000 pelajar Iran dalam konferensi bertema “Dunia Tanpa Zionisme”. Karena itu, tidak heran bila kalimat-kalimat dalam pidato ini sangat ringan dan mudah dicerna. Dalam pidato ini, Ahmadinejadi mengajak para pelajar itu untuk berpikir, “Sesungguhnya, apa yang terjadi di Palestina? Apakah ini perang antara sebuah negara (=Israel, pent.) melawan negara-negara lain? Atau, perang antara sebuah negara (=Israel, pent.) melawan dunia Arab? Apakah perang itu terbatas pada wilayah Palestina saja? Dalam pandangan saya, jawaban dari semua pertanyaan tadi adalah: tidak.”

Menurut Ahmadinejad, pendirian rezim Zionis adalah sebuah gerakan besar yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan adidaya dunia melawan dunia Islam. Di antara dunia Islam dan kekuatan-kekuatan adidaya itu sedang terjadi perang bersejarah yang berakar pada ratusan tahun yang silam. Dalam perang bersejarah ini, terjadi saling pergantian posisi. Pada satu zaman, umat Islam yang menang dan berhasil membangun peradabannya yang cemerlang. Pada zaman lain, kekuatan-kekuatan adidaya itu yang menang. Sayangnya, selama 300 tahun terakhir, dunia Islam harus berada di pihak yang kalah.

Ahmadinejad menggunakan istilah militer untuk mendeskripsikan Israel, brigde-head, yaitu sebuah posko yang dibangun di jantung wilayah musuh dengan tujuan melancarkan serangan selanjutnya secara lebih efektif. Begitu pula tujuan didirikannya Israel. Kekuatan-kekuatan adidaya itu ingin mempertahankan kemenangan dengan cara membangun sebuah brigde-head di jantung dunia Islam, yaitu di Al Quds (Palestina). Oleh karena itu, perang yang kini tengah terjadi di Palestina sebenarnya adalah garis depan perang antara dunia Islam melawan kekuatan-kekuatan adidaya yang ingin menghancurkan Islam. Perang yang sedang terjadi ini adalah perang yang menentukan nasib dunia Islam. Kekalahan di perang ini akan menjadi kekalahan seluruh umat Islam dan merupakan kekalahan penutup dari perang yang telah berlangsung ratusan tahun itu. Dengan demikian, bangsa Palestina hari ini adalah wakil dari umat Islam dalam menghadapi serangan kekuatan-kekuatan yang anti dunia Islam.

Penjelasan sederhana dari Ahmadinejad itu cukup memuaskan berbagai pertanyaan yang sempat muncul di benak saya. Kaum muslimin sedunia memang harus membela Palestina dan berupaya dengan berbagai jalan, antara lain dengan penggalangan dana, untuk mengusir rezim Israel dari tanah Palestina. Sebagai penutup, saya ulangi lagi pertanyaan yang diungkapkan Ahmadinejad kepada negara-negara Barat, “Bila Israel didirikan sebagai penebus penderitaan mereka akibat Holocaust, mengapa Israel didirikan di Palestina? Mengapa Israel tidak didirikan di wilayah negara-negara Barat yang menjadi pelaku Holocaust tersebut?”

*Sebuah renungan di Yaumul Quds 26 Ramadhan 1427H di Teheran*

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

Pemerintah Mesir, Arab Saudi, dan Jordan menyebut Hezbollah sebagai pengacau dan pencari gara-gara. Rezim Israel, AS, Inggris, dan Kanada menyebutnya sebagai teroris. AS sejak dulu sudah menaruh Hezbollah dalam daftar organisasi-organisasi teroris dunia, setara dengan Al Qaida. Tapi, melihat Hezbollah dari Iran, kita akan menemukan wajah yang berbeda. Foto-foto Sayyid Hasan Nasrullah dipajang di berbagai sudut jalan. Di televisi ditampilkan rekaman demonstrasi-demonstrasi yang berlangsung di berbagai penjuru dunia dengan membawa-bawa bendera Hezbollah dan foto Hasan Nasrallah. Demonstrasi mendukung Hezbollah tidak hanya terjadi di Iran dan negeri-negeri Arab, melainkan juga di Amerika, Australia, Belgia, Perancis, Argentina, Turki, dan lain-lain. Hezbollah kini seolah menjadi icon baru perlawanan terhadap kekejaman Israel. Ketika dunia Islam hanya mampu memberi reaksi seputar resolusi atau demonstrasi, Hezbollah maju dengan senjata.

Siapa Hezbollah sesungguhnya? Organisasi militer ini dibentuk pada tahun 1982, diarsiteki beberapa orang asal Iran, antara lain Doktor Chamran, ahli fisika nuklir Iran keluaran Harvard University. Tujuan pendirian Hezbollah adalah dalam rangka membebaskan kawasan Lebanon selatan yang dicaplok oleh Israel pada tahun 1978. Organisasi ini punya cara kerja yang unik. Di satu sisi memperkuat kemampuan militer, di sisi lain, mereka juga berjuang dalam bidang sosial. Mereka membangun rumah sakit, sekolah, fasilitas umum, dan menanggung kehidupan anak-istri dari pejuang yang tewas dalam perang.

Pada tahun 2000, akhirnya Hezbollah berhasil mengusir keluar tentara Israel dari wilayah Lebanon selatan, meski hanya dengan bekal senjata minim dan tanpa dukungan dari pemerintah Lebanon sendiri. Kemenangan besar ini membuat kharisma Hezbollah semakin mencuat di Timur Tengah, terutama di tengah bangsa Lebanon sendiri. Apalagi, sikap para pemimpin Hezbollah yang tidak ambisius mengejar karir politik, membuat para politikus elit di Lebanon sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan organisasi militer independen ini.

Bahkan, ketika AS dan sekutu-sekutunya menekan pemerintah Lebanon agar melucuti senjata Hezbollah, Presiden Lebanon, Emil Lahoud berkata, “Bagi bangsa kami, Hezbollah adalah gerakan perjuangan pertahanan nasional dan tanpa mereka, kami tidak akan berhasil membebaskan wilayah kami. Karena itu, kami sangat menghargai gerakan Hezbollah.” Besarnya dukungan rakyat Lebanon terhadap Hezbollah tampak jelas ketika pada 8 Maret 2005 hampir dua juta massa menyambut seruan Sayid Hasan Nasrullah. Pada hari itu, alun-alun Riyadh al-Shulh, Beirut, menjadi panggung demonstrasi akbar anti Amerika dan Zionis, serta dukungan kepada Hezbollah.

Meski tentara Zionis sudah terusir dari seluruh wilayah Lebanon –kecuali kawasan Shab’a– pada tahun 2000, Hasan Nasrullah berjanji bahwa ia akan mengembalikan semua pejuangnya yang ditawan Israel ke pangkuan keluarga mereka masing-masing. Pada tahun 2004, pemimpin Hezbollah itu berhasil memenuhi sebagian janjinya dengan cara pertukaran tawanan, 400 tahanan Palestina dan 59 pejuang Hezbollah ditukar dengan seorang bisnismen Israel, Elhanan Tennenbaum, dan 3 jasad tentara Israel. Hari Rabu (12/7) pasukan Hezbollah menyerang kawasan Shab’a milik Lebanon yang masih dikuasai Israel. Dalam serangan ini, Hezbollah berhasil menewaskan beberapa tentara Israel dan menawan dua lainnya.

Sebagaimana sebelumnya, Hezbollah kali ini juga menuntut dilakukannya pertukaran tawanan, yaitu dengan 8000 tahanan Palestina dan 5000 tahanan Lebanon yang kini menderita penyiksaan di penjara-penjara Israel. Namun kali ini, Israel membalasnya dengan gempuran membabi-buta. Analis militer Iran menyatakan, cepatnya reaksi Israel itu menunjukkan bahwa sebelumnya Israel memang sudah bersiap-siap untuk menyerang, hanya menunggu momen yang bisa dijadikan dalih di depan opini dunia. Ketika serangan tentara Zionis semakin membabi-buta dan dunia menuntut diadakannya gencatan senjata, AS malah menggunakan hak vetonya untuk menghalangi. Masih menurut analis militer Iran, sesungguhnya serangan Israel itu termasuk dalam program AS untuk melucuti Hezbollah dan menduduki Lebanon. Direncanakan, serangan itu hanya akan memakan waktu empat hari.

Namun, AS, Israel, dan dunia tekejut melihat bahwa Hezbollah berhasil mempertahankan wilayahnya meski perang telah berlangsung 20 hari (saat tulisan ini dibuat). Kekuatan persenjataan dan terorganisirnya serangan Hezbollah tak urung membuat Israel dan dunia terperangah. Meski hanya bersenjatakan roket, tanpa tank, helikopter, pesawat F-16, kapal perang, atau artileri, Hezbollah berhasil menembak jatuh pesawat F-16, kapal perang, dan terakhir (31/7) bahkan menghancurkan kapal induk Israel. Hujan roket Hezbollah bahkan berhasil menghancurkan berbagai kota Israel, di antaranya Haifa, yang jaraknya 50 kilo dari perbatasan Lebanon.

Dalam sepanjang sejarah berdirinya negara illegal Israel, belum pernah ada serangan yang berhasil menembus kota-kota utamanya. Tak heran hal ini membuat warga Israel sangat ketakutan. Segera mereka berdemo meminta dihentikannya perang. Anggota parlemen Israel pun bertengkar, sebagian menghendaki perang dihentikan, sebagian menuntut dilanjutkannya perang. Eksodus besar-besaran warga Israel ke luar negeri terjadi, sampai-sampai pemerintah Zionis meminta negara-negara asing agar tidak memberi visa kepada warga Israel yang ingin kabur itu. Tak hanya warga yang ketakutan, koran Kayhan terbitan Iran pun beberapa hari yang lalu memasang foto-foto polisi Israel yang menangis ketakutan di tengah gempuran Hezbollah di kota Haifa.

Sebaliknya, Hezbollah tampil dengan sangat percaya diri. Saya sempat menyimak pidato Sayyid Hasan Nasrullah yang disiarkan live oleh televisi Iran dan beberapa jaringan televisi internasional. Yang paling nyelekit dari pidatonya itu, “Kami tidak butuh bantuan dari manapun. Kami bisa mempertahankan negeri kami sendiri. Kami hanya meminta bantuan dari Allah. Kalian wahai pemimpin bangsa Arab, pikirkanlah nasib kalian sendiri. Pikirkanlah akhirat kalian, bila kalian memang percaya pada akhirat. Pikirkanlah, bagaimana kalian mempertanggungjawabkan sikap kalian yang berdiam diri di depan kezaliman ini.” Pidato ini ditujukan kepada Liga Arab yang sebelumnya (15/7) mengadakan sidang di Kairo. Sidang itu tidak menghasilkan apapun, selain kecaman terhadap Israel atas serangannya ke Palestina dan Lebanon.

Setiap kali ada battle (perang) sengit dan posisi Hezbollah kritis, organisasi militer ini mengirim surat resmi ke Iran, meminta diadakan majelis doa Jausyan-Shaghir (jausyan=pakaian perang shaghir=kecil). Dan, berbagai majelis doa pun digelar. Orang-orang Iran menangis tersedu-sedu membaca doa yang berisi harapan agar Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya itu. Tak lama kemudian datang kabar bahwa Hezbollah memenangkan battle itu.

Terakhir, di televisi ditampilkan pula adegan orang-orang Israel yang kalang kabut, berlarian ke bunker. Yang tragis, justru polisi dan tentara Israel pun tampak ikut berlarian ke dalam bunker. Diberitakan, dalam 24 jam, polisi-polisi yang seharusnya menjaga kemanan warga itu hanya keluar dari bunker selama 2 jam, untuk mengambil persediaan makanan. Fakta ini benar-benar menunjukkan kepengecutan mental tentara Israel. Selain itu, juga membuktikan kata-kata Ahmadinejad, bahwa sebuah bangsa tidak perlu senjata nuklir untuk membela dirinya. Yang diperlukan adalah mental kuat bangsa itu sendiri. Terbukti, tentara Israel yang memiliki 200 hulu ledak nuklir malah lari pontang-panting ketika dilempari roket dan kalah telak dalam pertempuran darat. Yang berani mereka lakukan hanya menggunakan pesawat untuk menjatuhkan bom-bom ke berbagai desa dan kota, membunuh rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa.

Analisis Kemenangan Hizbullah

Analisis Kemenangan Hizbullah

oleh: Dina Sulaeman

Perang Lebanon telah usai. Meski menorehkan banyak luka, derita, dan kehilangan, rakyat Lebanon menyambut kemenangan ini dengan suka cita. Masyarakat Dunia Arab juga gembira. Kemenangan Hizbullah melawan agresi Israel, yang sering disebut-sebut sebagai kekuatan militer nomor satu di Timur Tengah, seolah-olah telah mengembalikan muka Dunia Arab. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1967 Israel secara tiba-tiba melakukan serangan terhadap wilayah Mesir, Syria, Jordan. Hanya dalam waktu enam hari, ketiga negara yang menjadi representasi perlawanan bangsa Arab terhadap Israel itu, kalah telak. Namun kini, sebuah kekuatan milter yang sederhana dari segi peralatan tempur ternyata tidak bisa dikalahkan Israel, meski rezim ini sudah menghabiskan dana antara 95-115 juta dollar AS per hari selama 34 hari perang. Bukan hanya Dunia Arab, Dunia Islam secara umum pun bangkit harga dirinya dan meraih keyakinan kembali bahwa Israel bukanlah negara tak terkalahkan, sebagaimana yang selama ini menjadi mitos.

Analis militer Iran, Doktor Ala’i, menyimpulkan bahwa anggota pasukan Hizbullah memiliki tiga karakteristik penting yang menjadi kunci kemenangannya dalam perang ini. Hizbullah memiliki pasukan yang tidak takut mati dan menganggap bahwa kematian syahid adalah tujuan hidup; telah menjalani latihan militer yang sangat ketat; dan mengenali dengan baik setiap sentimeter medan perang. Kekalahan Israel sesungguhnya dimulai ketika mereka mengirimkan pasukan darat ke dalam kawasan Lebanon selatan. Medan peperangan yang berbukit-bukit, bersemak, dan berpohon-pohon, memberikan kesempatan bagi Hizbullah untuk memenangkan perang. Di televisi diperlihatkan, suatu saat suatu kawasan sudah dibombardir habis oleh pesawat Israel, dan secara teori, seharusnya semua pasukan Hizbullah yang berada di kawasan itu tewas. Namun tiba-tiba dari dalam tanah, bermunculan tentara Hizbullah dan melakukan serangan balik kepada tentara darat Israel.

Analisis politik Iran lainnya menyebut bahwa kunci kemenangan Hizbullah adalah solidnya pasukan dan rapinya jaringan komunikasi selama perang berlangsung. Hizbullah sama sekali tidak bisa ditembus oleh mata-mata Israel, yang sudah sangat terkenal kehebatannya itu. Bisa dipastikan, hal ini bersumber dari dukungan rakyat. Konon, setiap keluarga warga Lebanon selatan salah satunya pasti menjadi anggota Hizbullah, baik aktif maupun pasif. Kesolidan pasukan Hizbullah juga membuat saluran komunikasi dari panglima tertinggi hingga ke pasukan terdepan tidak bisa diputus oleh Israel. Selain itu, penghubung komunikasi antara Hizbullah dengan rakyat Lebanon, yaitu televisi Al Manar, tetap mengudara selama perang. Padahal, Israel telah membombardir banyak situs yang disangka sebagai pusat penyiaran televisi ini, termasuk stasiun televisi nasional Lebanon.

Kini, ketika perang usai, Hizbullah masih terus menjadi berita. Pasalnya, organisasi militer ini bergerak cepat untuk membantu rakyat Lebanon korban perang. Mereka memberikan bantuan uang 12.000 dollar AS untuk tiap keluarga yang kehilangan rumah, yang digunakan untuk menyewa rumah selama setahun, sampai rumah mereka kembali dibangun. Para anggota Hizbullah yang semula angkat senjata, kini tengah sibuk bekerja membangun atau memperbaiki kembali berbagai sarana fasilitas umum yang rusak akibat perang, dan setelah itu mereka merencanakan akan membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Selain pasukan Hizbullah, diperkirakan, ada sekitar 1000 tenaga profesional, terutama insinyur teknik, yang menjadi sukarelawan dalam program rekonstruksi yang disebut dengan Jihad Al Bina (Jihad Pembangunan) ini.

Gerak cepat Hizbullah ini, tak urung menimbulkan kekhawatiran dari negara-negara Barat, sebagaimana dilansir Financial Times (27/8). Koran ini bahkan menyebut Perancis telah menyeru negara-negara Arab agar segera mengumpulkan dana rekonstruksi Lebanon, supaya tidak ketinggalan dari ‘kekuatan radikal’. Meskipun disanggah oleh Hizbullah, banyak pihak yang mengira, sumber dana besar yang dimiliki organisasi militer itu berasal dari Iran. John Bolton, Duta Besar AS untuk PBB seperti dikutip Associated Press (28/7), menyatakan bahwa Iran membantu Hizbullah 100 juta dolar pertahun.

Menurut pengamatan saya, angka 100 juta dolar pertahun itu sulit dipercaya. Kondisi perekonomian Iran saat ini tidaklah memungkinkan untuk mengirim bantuan dalam jumlah yang sedemikian besar kepada Hizbullah. Iran bukanlah negara kaya. Menurut Bank Dunia, pendapat per kapita Iran saat ini rata-rata 2429 dollar dolar dan berada di urutan ke-99 negara dunia. Pemerintah negara ini masih harus berjuang menyelesaikan banyak masalah dalam negeri, terutama masalah pengangguran (11 persen) dan inflasi (yang saat ini masih di atas 10 persen). Pemerintah Iran juga masih harus menanggung subsidi yang sangat besar pada berbagai sektor ekonomi nasional.

Lalu, dari manakah sumber keuangan Hizbullah yang sedemikian besar itu? Saya menduga, sumbernya adalah mobilisasi dana kaum Syiah seluruh dunia, yang dikelola oleh para ulama mereka. Di dalam mazhab Syiah, dikenal zakat penghasilan (disebut khumus) sebesar 20 persen pertahun, yang harus langsung diserahkan kepada para ulama tertentu yang memiliki predikat marji’ (rujukan). Setahu saya, di Iran minimalnya ada sembilah ulama berstatus marji’ (antara lain, Ayatullah Khamenei, Ayatullah Lankarani, Ayatullah Behjat), di Lebanon ada satu ulama marji’ bernama Ayatullah Muhammad Husein Fadhlullah, dan dari Irak dikenal nama Ayatullah Sistani. Bisa dibayangkan, betapa besar dana zakat dari seluruh penjuru dunia yang berada di tangan para ulama itu. Dana besar itu dimanfaatkan sesuai dengan pertimbangan para ulama tersebut. Sangat masuk akal bila Hizbullah menjadi salah satu tempat penyaluran dana itu, yang pada gilirannya dimanfatkan organisasi militer itu untuk kepentingan korban perang di Lebanon.

Terlepas dari masalah siapa yang memberi dana kepada Hizbullah, seharusnya dunia Islam tidak tinggal diam dalam melihat proses rekonstruksi di Lebanon. Sangat miris bila diingat bahwa justru Perancis yang menyerukan agar negara-negara Arab mengumpulkan bantuan (terlepas dari apa motivasi Perancis di balik seruan ini). Sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini, kemenangan Hizbullah telah menyelamatkan muka dunia Arab, karena itu sudah seharusnya mereka berterima kasih dengan cara membantu proses rekonstruksi. Terlebih lagi, seperti dikatakan seorang analis politik Iran, bila dunia Arab dan dunia Islam pada umumnya bersatu membantu Lebanon, secara politis, Israel akan semakin tersudut. Terakhir, mengapa ’siapa yang membantu Hizbullah’ harus dipermasalahkan, sementara AS dibiarkan setiap tahun secara terang-terangan menyuplai 2,2 milyar dollar ke Israel?

About Me

"aku kecil" tak memiliki apapun juga dihadapan "AKU BESAR". apa yang bisa disombongkan dari "aku kecil" ,padahal "aku kecil" adalah bentuk ketiadaan yang abadi. sedang "AKU BESAR", adalah keabadian itu sendiri.keabadian adalah KEADAAN MURNI" tanpa tersentuh sedikitpun oleh ketiadaan."aku kecil" adalah fakir, miskin, lemah, tak ada yang bisa diharapkan."AKU BESAR" telah membuat sepertinya "aku kecil" memiliki eksistensi, padahal eksistensi mutlak ada pada "AKU BESAR". "aku kecil" adalah aku sendiri,dzulfikar. !!! MAHA BESAR DAN SEMPURNA DIRIMU TUHAN !!!